Tampilkan postingan dengan label UNJ. Tampilkan semua postingan

Pernah dengar ngga kutipan “if it doesn’t open…it’s not your door.”?. Kurang lebih makna nya adalah jika sebuah kesempatan memang bukanlah d...


cerita perjuangan devi aprilia nita universitas negeri jakarta

Pernah dengar ngga kutipan “if it doesn’t open…it’s not your door.”?. Kurang lebih makna nya adalah jika sebuah kesempatan memang bukanlah ditujukan untukmu, maka itu bukanlah pintu kamu.

Nah, dikesempatan kali ini Devi pengen berbagi sedikit ceritanya, mengenai perjuangannya bisa lulus ke bangku perguruan tinggi penasaran bagaimana ceritanya. Simak uraian berikut:


Saya Devi Aprilia Nita ingin berbagi kisah pengalaman 1-2 tahun lalu saat saya menghadapi kehidupan yang sangat jauh dari keinginan dan harapan saya dimasa itu, untuk masa sekarang tentunya. Masa dimana saat ini saya dibentuk menjadi pribadi yang sangat bukan saya saat itu. Saya bukanlah orang yang mampu bercerita untuk menggambarkan apa yang saya rasakan lewat tulisan, iya, payah sekali bahkan. 

Mengapa? Karena saya terlalu menikmati bercerita secara langsung melalui intonasi yang dapat saya atur dengan senadanya gerakan tangan yg ikut berbicara saat saya bercerita. Maka dari itu, dengan ini saya menjamu kamu untuk larut dalam cerita yang mungkin akan memakan 10-15 menit dari hidup kamu, yang semoga tidak sia-sia.


Mau Kuliah dimana Nanti?


Berawal dari kehebohan “kamu mau kuliah dimana nanti?” yang dilontarkan hampir setiap saat oleh setiap orang, saat dimana masa awal kelas 12 dimulai. Bingung? tentunya, saya bukanlah orang yang bisa berencana,bukankah spontan lebih menyenangkan?, 

karena saat itu, jujur, prioritas saya bukanlah untuk menjadi Mahasiswa Universitas Negeri yang bagi sebagian besar orang Indonesia, terkhusus untuk orang tua yang menginginkan anaknya menjadi lulusan Universitas yang dijamin dengan olok-olok ‘lulusan negeri gampang kerja’ Bukan, sangat jauh dari keinginan saya,bukan karena saya bodoh, dan tidak mampu masuk Universitas Negeri, tidak. 

Tidak ada orang bodoh di dunia ini, di sini. Namun yang menjadi heran, setidak tertarik itu saya pada ITB, UNPAD, UI dan bahkan universitas-universitas negeri terpandang lainnya. Karena mindset awal saya ‘mau kuliah dimanapun, kalau kamu  tidak berkualitas, kamu hanya akan membuang waktu 3-4-5 tahun hanya untuk gelar  S.Pd, S.H, S.Ip, S.Ked dan S-S yang lainnya, karena pada akhirnya, adalah seberapa berkualitasnya kamu untuk hadapi ujian –ujian kecil-besar yg kehidupan ini akan berikan selanjutnya’.


MAHASISWA HUBUNGAN INTERNASIONAL, UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN. Hanya itu yang saya tahu, tentang apa yang sangat saya inginkan selanjut lulus dari SMA, tentunya banyak dan rumit sekali masalah-masalah yang saya miliki, dari sekolah-bahkan keluarga. Mimpi saya itu harus saya lupakan, coba saya acuhkan.

Karena apa? karena kenyataannya, kuliah di sana mahal. Iya, saya tekankan, kuliah di unpar itu mahal!, kalau:

  1. Kamu bukan anak orang kaya
  2. Kamu gak pinter dan susah dapet Beasiswa
  3. Kamu gak cantik jadi gak bisa matrein pacar.

Saya tidak masuk dalam 3 kategori itu, sama sekali. Hahahaha iya boro-boro lahir dari keluarga yang deras rejekinya, untuk lancar aja masih selalu diharapkan. 

Sedikit cerita, dulu saat SMA, bahkan untuk punya uang lebih saja, saya harus berjualan, dari pudding, bapau, kue sus, sampai cireng, saya jalani hanya untuk bisa ‘jajan’ dan memenuhi kebutuhan sekolah lainnya, beli sepatu, beli buku, sampai bayar buku tahunan, saya harus berusaha segitunya.


“Dev, kenapa pengen masuk UNPAR?” saya latah, melihat kedua kakak saya berkuliah disana, menciptakan imajinasi saya, beranggapan bahwa UNPAR memang sebagus itu, walau kenyataannya memang sama seperti apa yang saya anggap. 

“Dev, kenapa pengen HI? Kamu kan anak IPA” iya, saya anak IPA murtad. Punya otak anak IPA? Jauh. Punya jiwa Sosial? Engga juga. Sebenarnya ini adalah cita-cita saya dari kecil, “ingin jadi duta besar Jerman untuk Indonesia” adalah cita-cita saya, sampai saat ini, saat sebelumnya saya hanya bercita-cita sebagai ‘tukang ngisi bensin karena bisa pegang banyak uang’. 

Hahaha Receh, remeh, apapun tanggapan kamu, maafkan Devi kecil yang dulu  tidak tahu bahwa sebenarnya gaji ‘tukang ngisi bensin’ hanya UMR atau bahkan kurang dari itu. Hehe. 


Kuliah Kedokteran Gratis di Unpad

Seingin itu jadi duta besar, jadinya milih Hubungan Internasional, padahal belum tentu terjamin. Kenapa Jerman? Entahlah sesuka ini saya sama negaranya Pak Hitler. “De, cobain aja kedokteran unpad, gratis tuh!” mama saya yang bilang, iya dia nyuruh saya jadi Dokter hanya karena biaya kuliahnya nol rupiah, senekat itu mama, beranggapan anak bungsunya mampu dan mau jadi dokter. 

Anehnya, saya tidak tertarik sama sekali menjadi dokter, iya saat anak-anak kecil ditanya “sudah besar mau jadi apa?” pasti jawabannya “Jadi DOKTER”, saya tidak. Mereka belum tahu saja bedah membedah dari kodok sampai mayat, jaga malam, seramnya hingga menyedihkannya Rumah Sakit, dan berbagai hal yg menurut saya tidak menyenangkan lainnya. Dari kecil-sampai saat ini saya tidak pernah sama sekali ingin menjadikan dokter sebagai pekerjaan, bukan karena saya tidak bisa membantu orang lain, bukan. 

Apa yaa… anggapan saya pada Rumah Sakit memang seburuk itu, tempat banyaknya harapan kehidupan-kesembuhan, tempat dimana pilihan tentang lahir-hidup-mati, sakit-sehat-tak berdaya, harapan-kekecewaan-keadaan, administrasi-operasi, apapun itu, terserah, menurut saya itu tidak menyenangkan.

Oh iya, hampir lupa saya akan bercerita tentang sedihnya tidak bisa ikut bimbingan belajar, iya, lagi-lagi karena uang. Ingat ada seorang teman yang bertanya “Dev kalau gak les mana bisa masuk PTN?” untukmu, temanku, dan orang-orang yang masih memiliki anggapan seperti itu, aku hanya ingin memberitahu, ini bukan masalah dimana kamu les, berapa besar biaya kamu les, berapa lama kamu les, bukan sayang, ini tentang takdir. 

Iya, tahukah kamu tentang: mau sebagaimana kita mengusahakan suatu hal, jika hal itu bukan untuk kita, sekeras apapun usaha, jawabannyaa akan ‘tidak’?. Lelah saja rasanya, menanggapi perihal les, bimbingan, belajar bersama, apapun itu. 

Temanku, kalaupun aku atau kedua orangtua-ku mampu, aku sudah les jauh-jauh hari, untuk mengejar mimpiku tentunya, adakah orang yang ingin memiliki pengetahuan terbatas? Tidak sayang, tidak ada. Kamu, aku, bahkan semuanya ingin berwawasan luas, sekarang aku hanya ingin bertanya, apakah dengan kamu ikut les kamu masuk perguruan tinggi negeri?

Apakah pertanyaanku terkesan menyinggung? Maaf dan Tolong teman, belajarlah untuk tidak mempertanyakan hal yang akan membuat orang lain sakit.


Perihal banyaknya masalah yang datang saat penghujung tahun kelas 12, saya lelah sepenuh mati. Nyerah sama keadaan, bolos sekolah pura-pura sakit karena sesakit itu untuk datang ke sekolah, lelah belajar, banyak tuntutan, permusuhan, apakah ini berlebihan untuk ditanggapi saat saya waktu itu akan menghadapi ujian?

Jelas sangat berlebih beban ini jika saya pikirkan, bayangkan saja, tahun terakhir yang seharusnya diakhiri indah, hancur hanya karena kebodohan yang saya lakukan, sehingga sahabat saya, teman sebangku saya menjadi orang asing yang tidak seperti biasanya, itu sulit, itu sakit.

Tidak tahu saya harus bagaimana menghadapinya, Karena menjauh itu sulit, karena terbiasa bisu dengan orang yang biasanya menjadi pendamping cerita sehari-hari, itu sangat sulit. Tahu bagaimana saya menghadapinya? 6 buku latihan ujian nasional bekas saudara saya habisi dalam kurang lebih 1 bulan bersama Rany dan Aysah. Hasilnya? Saya makin stress hahahaha.
(hallo ayasa, raraan kalo baca ini! hehehe)


UN berlalu, ikut pmdk UNPAR dan gak lolos, saya kurang mampu dan kurang pintar menaklukan UNPAR, lolos seleksi pertama SNMPTN hasilnya ditolak.. harapan terakhir SBMPTN yang jujur sangat tidak saya inginkan, iya karena saya beranggapan hanya akan buang uang kalau hasilnya tidak memuaskan, namun melihat mama yang berjuang cari uang untuk pendaftaran buat saya sadar, ‘dev berjuang!

Bukan demi uang, universitas negeri, masa depan, ini demi mama’.  Saat itu, punya uang Rp10.000 aja nggak, Alhamdulillah biaya pendaftaran SBMPTN dibantu oleh saudara, karena itu pula keinginan belajar saya menguat, karena gak mau bikin yang bayarin kecewa, hahahaha beli buku SBMPTN man saudara saya Hanum, temanya, Vira menjual buku itu setengah harga, dia beli Rp.80.000 dijual Rp.40.000 berikut saya hanya mampu bayar 20 dulu hahaha sisanya dibayarin Hanum, diam-diam.

buku sbmptn murah
Gambar hanya Ilustrasi



Pengumuman SBMPTN hari itu diumumkan pukul 2 siang Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB), paginya saya mencari perguruan tinggi swasta di Jakarta, karena saat itu mama lagi bertarung nasib di Ibu Kota, bikin rumah makan masakan sunda bersama kakaknya. 

BINUS, BAKRIE UNIVERSITY, PERBANAS, PARAMADINA, adalah 4 tempat kuliah yang biaya semesternya, bikin saya ingin bunuh diri. Harapan saya rubuh untuk kuliah tahun kemarin, membayangkan akan menjadi jamur macam apa saya jika diam dirumah 1 tahun menunggu ujian saringan masuk universitas tahun ini. 

Nangis? Iya selama perjalan pulang dari tempat kuliah terakhir yang saya survey air mata saya tidak bisa saya tahan dan hentikan. Pukul 1 siang, di Grup Line teman-teman kelas saya pada deg-degan, saya? Makin deg-degan, dan makin nangis. Pukul 2 siang, gak berani buka, setelah banyak teman yang mengumumkan bahwa mereka tidak lolos, niatnya; web laknat itu tidak akan saya buka sampai pagi esok hari, setelah terpikirkan untuk sholat malam agar diberi keikhlasan (iya saya lebay).

Namun, karena hasutan-hasutan teman “buka dev ih biar gak penasaran” bingung, ini yang penasaran saya atau dia, hahaha akhirnya pukul 4 saya buka. Hasilnya? Jauh dari apa yang saya bayangkan, memang ya rencana-Nya tidak ada yang tahu.

Saya lolos seleksi SBMPTN dipilihan kedua, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA- Prodi Pendidikan Bahasa Jerman. Saya nangis, nangis sedih karena lolos SBM dan gak bisa ikutan usm 3 UNPAR. Mama saya nangis, nangis bahagia anaknya bisa kuliah.


Pintu Saya adalah Jakarta!

Jakarta (source: intisari.grid)


Pada akhirnya, kembali pada kalimat awal cerita ini, ternyata pintu rejeki untuk masa depan saya ada disini, di Jakarta, di Universitas ini, lalu saya harus belajar mengikhlaskan pintu yang bukan pintu takdir masa depan saya, yang lalu selalu ingin saya dobrak, memaksakan masuk. Teman, jika itu tidak terbuka, itu bukan pintumu. Bersabar, Allah tahu kamu sedang berjuang.


Inilah cerita saya, cerita tidak terduga dari anak yang terlalu suka berkhayal. Disini, di Ibu Kota ini, Jakarta, perjuangan saya berawal, perjuangan yang lebih menguras tenaga dari perjuangan-perjuangan sebelumnya, perjuangan yang lebih menuntut kesabaran dari kesabaran-kesabaran sebelumnya, perjuangan yang menghasilkan kekuatan dalam diri ini, arti dari segala pelajaran dan makna hidup yang lebih ‘hidup’.

Saya, Devi Aprilia Nita, yang selalu merindukan Bandung dan dia, mengungkapkan terimakasih sama kamu, udah mau baca, dan udah mau saya minta waktunya. Lagi-lagi saya harap tidak ada yang sia-sia, semoga setidaknya ada sedikit pelajaran dari cerita pengalaman saya setelah ini. 

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya ceritakan, tentang kelulusan hingga mencoba ikut tes kuliah di Belanda yang pengurusannya lebih ribet dari apapun hal ribet didunia ini, tapi saya takut kamu bosan, sampai sini aja ya?


Sampai jumpa, para pejuang! Sampai bertemu di masa depan yang gemilang.
Salam sayang dari saya dan Ibu Kota kita, Jakarta.