Tampilkan postingan dengan label Cerita Perjuangan. Tampilkan semua postingan

Menyesalah di Awal Daripada Menyesal di Akhir Assalamualaikum. Hello, perkenalkan nama saya Cindy Pratiwi. Bicara masa yang paling indah yaa...


Menyesalah di Awal Daripada Menyesal di Akhir


Assalamualaikum. Hello, perkenalkan nama saya Cindy Pratiwi. Bicara masa yang paling indah yaa masa masa di sekolah yang lebih tepatnya masa SMA, tapi ketika awal SMA saya tak seindah kata orang mungkin karena berada di sekolah yang tak diharapkan sempat merasa malu bahkan minder ketika bersama teman-teman dekat semasa SMP, mereka berada di SMA yang favorite yang bahkan saya inginkan. Saya sedikit merasa kesal ketika ditanya berbau SMA mungkin yang paling kesal tingkat tinggi tuh dia gatau SMAN 17 dimana? caringin tuh dimanaa ya? sedikit menguras kesabaran sih sebenernya. 

Disitu saya berpikir "Menyesal tidak dapat merubah segalanya, tetapi perubahan yang kamu lakukan saat ini akan merubah segalanya". Dulu ketika saya SMP, belajar pun kadang-kadang bahkan tidak ada motivasi belajar untuk mendapatkan target yang diinginkan sibuk eskul lah sibuk main lah ga sempet memikirkan untuk mendapatkan yang lebih baik menjadi lebih baik, akhirnya ketika saya masuk SMAN 17 Bandung saya paham hidup itu butuh perjuangan yang ekstra dan saya sangat berterimakasih kepada Allah SWT karena masuk SMAN 17 Bandung saya banyak belajar artinya kehidupan, mungkin apaa kata orang benar, yang kita inginkan belum tentu baik buat kita.

Di sini-lah saya bertekad pada diri saya, "Dengan keadaan apaapun saya harus menjadi yang terbaik se-SMAN 17 Bandung", semua apapun yang diniatkan dengan baik pasti akan terlaksana dengan baik dan mudah asal kita mau, InshaAllah. Yaa walaupun kenyataannya saya tidak menjadi yang terbaik di SMAN 17 tapi setidaknya nilai saya tiap semester berada di 3 terbaik di jurusan MIPA. Karena saya punya tekad yang kuat untuk menjadi yang terbaik, maka keadaan rintangan disekolah seperti malu bertanya, malu mengungkapkan pendapat dan sebagainyaa itu lambat laut akan terasah dan kalian tidak akan gugup untuk berbicara di depan kelas. 

Proses perubahan menjadi lebih baik membutuhkan sesosok yang dapat merubah kita, mungkin saat itu ada yang menjadi sesosok favorite saya yang dapat memotivasi saya untuk bisa, ketika disitulah hati kecil saya berbicara "Suatu saat nanti saya ketika menjadi guru saya akan menjadi seperti mereka" sesosok yang menjadi favorite saya itu yang sekarang sedang mengajar kalian. Setelah melewati masa masa SMA, tibalah diujung akhir masa SMA wkwk.

Baca Juga: Cerita Rahayu Menembus Perikanan Universitas Padjajaran

Nah, cerita buruk lagi nih wkwk jeng... jeng... Saat pembagian hasil nilai UN  itu sangat mengecewakan bisa dibilang nilai UN saya berada di posisi tiga terbawah di kelas sangat berbalik dengan hasil nilai rapot saya semasa SMA, tapi saya tetap bangga dengan hasil saya karena nilai kejujuran lebih penting dibandingkan sekedar nilai. Kebetulan saat itu, pengumuman hasil UN berbarengan dengan hasil SNMPTN, saya sudah merasa pesimis karena pada saat itu nilai UN mempengaruhi lolos tidaknya SNMPTN. 

Setelah mengetahui saya tidak lolos SNMPTN, disitulah saya langsung belajar ekstra dari jam 3 subuh sampai jam 9 malam tiap hari seperti itu kurang lebih. Nyobain tes STIS ga lolos. Akhirnyaa tibalah dimana tes SBMPTN, sangat menegangkan memang bahkan memusingkan apalagi tes TPA nya mantap. Saat itu saya pilih Statistika-UNPAD, Pendidikan Matematika-UPI, Pendidikan Biologi-UPI, pilihan yang ketiga itu bisa dibilang bukan terlalu saya banget karena bakat dan minat saya ada di matematika. 

Saat hasil pengumuman nanti saya berharap lolos di Pendidikan Matematika-UPI tapi kenyataannya saya lolos di Pendidikan Biologi-UPI tuh rasanya seneng ama kecewa, senengnyaa tuh bisa lolos sedangkan kecewanya itu kenapaa sih harus di biologi, tapi yaa mungkin ini yang terbaik untuk saya dan untuk saat ini jalani dengan ikhlas, tawakal, istiqomah dengan apa yang sudah menjadi jurusan saya InshaAllah bisa.

Pernah dengar ngga kutipan “if it doesn’t open…it’s not your door.”?. Kurang lebih makna nya adalah jika sebuah kesempatan memang bukanlah d...


cerita perjuangan devi aprilia nita universitas negeri jakarta

Pernah dengar ngga kutipan “if it doesn’t open…it’s not your door.”?. Kurang lebih makna nya adalah jika sebuah kesempatan memang bukanlah ditujukan untukmu, maka itu bukanlah pintu kamu.

Nah, dikesempatan kali ini Devi pengen berbagi sedikit ceritanya, mengenai perjuangannya bisa lulus ke bangku perguruan tinggi penasaran bagaimana ceritanya. Simak uraian berikut:


Saya Devi Aprilia Nita ingin berbagi kisah pengalaman 1-2 tahun lalu saat saya menghadapi kehidupan yang sangat jauh dari keinginan dan harapan saya dimasa itu, untuk masa sekarang tentunya. Masa dimana saat ini saya dibentuk menjadi pribadi yang sangat bukan saya saat itu. Saya bukanlah orang yang mampu bercerita untuk menggambarkan apa yang saya rasakan lewat tulisan, iya, payah sekali bahkan. 

Mengapa? Karena saya terlalu menikmati bercerita secara langsung melalui intonasi yang dapat saya atur dengan senadanya gerakan tangan yg ikut berbicara saat saya bercerita. Maka dari itu, dengan ini saya menjamu kamu untuk larut dalam cerita yang mungkin akan memakan 10-15 menit dari hidup kamu, yang semoga tidak sia-sia.


Mau Kuliah dimana Nanti?


Berawal dari kehebohan “kamu mau kuliah dimana nanti?” yang dilontarkan hampir setiap saat oleh setiap orang, saat dimana masa awal kelas 12 dimulai. Bingung? tentunya, saya bukanlah orang yang bisa berencana,bukankah spontan lebih menyenangkan?, 

karena saat itu, jujur, prioritas saya bukanlah untuk menjadi Mahasiswa Universitas Negeri yang bagi sebagian besar orang Indonesia, terkhusus untuk orang tua yang menginginkan anaknya menjadi lulusan Universitas yang dijamin dengan olok-olok ‘lulusan negeri gampang kerja’ Bukan, sangat jauh dari keinginan saya,bukan karena saya bodoh, dan tidak mampu masuk Universitas Negeri, tidak. 

Tidak ada orang bodoh di dunia ini, di sini. Namun yang menjadi heran, setidak tertarik itu saya pada ITB, UNPAD, UI dan bahkan universitas-universitas negeri terpandang lainnya. Karena mindset awal saya ‘mau kuliah dimanapun, kalau kamu  tidak berkualitas, kamu hanya akan membuang waktu 3-4-5 tahun hanya untuk gelar  S.Pd, S.H, S.Ip, S.Ked dan S-S yang lainnya, karena pada akhirnya, adalah seberapa berkualitasnya kamu untuk hadapi ujian –ujian kecil-besar yg kehidupan ini akan berikan selanjutnya’.


MAHASISWA HUBUNGAN INTERNASIONAL, UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN. Hanya itu yang saya tahu, tentang apa yang sangat saya inginkan selanjut lulus dari SMA, tentunya banyak dan rumit sekali masalah-masalah yang saya miliki, dari sekolah-bahkan keluarga. Mimpi saya itu harus saya lupakan, coba saya acuhkan.

Karena apa? karena kenyataannya, kuliah di sana mahal. Iya, saya tekankan, kuliah di unpar itu mahal!, kalau:

  1. Kamu bukan anak orang kaya
  2. Kamu gak pinter dan susah dapet Beasiswa
  3. Kamu gak cantik jadi gak bisa matrein pacar.

Saya tidak masuk dalam 3 kategori itu, sama sekali. Hahahaha iya boro-boro lahir dari keluarga yang deras rejekinya, untuk lancar aja masih selalu diharapkan. 

Sedikit cerita, dulu saat SMA, bahkan untuk punya uang lebih saja, saya harus berjualan, dari pudding, bapau, kue sus, sampai cireng, saya jalani hanya untuk bisa ‘jajan’ dan memenuhi kebutuhan sekolah lainnya, beli sepatu, beli buku, sampai bayar buku tahunan, saya harus berusaha segitunya.


“Dev, kenapa pengen masuk UNPAR?” saya latah, melihat kedua kakak saya berkuliah disana, menciptakan imajinasi saya, beranggapan bahwa UNPAR memang sebagus itu, walau kenyataannya memang sama seperti apa yang saya anggap. 

“Dev, kenapa pengen HI? Kamu kan anak IPA” iya, saya anak IPA murtad. Punya otak anak IPA? Jauh. Punya jiwa Sosial? Engga juga. Sebenarnya ini adalah cita-cita saya dari kecil, “ingin jadi duta besar Jerman untuk Indonesia” adalah cita-cita saya, sampai saat ini, saat sebelumnya saya hanya bercita-cita sebagai ‘tukang ngisi bensin karena bisa pegang banyak uang’. 

Hahaha Receh, remeh, apapun tanggapan kamu, maafkan Devi kecil yang dulu  tidak tahu bahwa sebenarnya gaji ‘tukang ngisi bensin’ hanya UMR atau bahkan kurang dari itu. Hehe. 


Kuliah Kedokteran Gratis di Unpad

Seingin itu jadi duta besar, jadinya milih Hubungan Internasional, padahal belum tentu terjamin. Kenapa Jerman? Entahlah sesuka ini saya sama negaranya Pak Hitler. “De, cobain aja kedokteran unpad, gratis tuh!” mama saya yang bilang, iya dia nyuruh saya jadi Dokter hanya karena biaya kuliahnya nol rupiah, senekat itu mama, beranggapan anak bungsunya mampu dan mau jadi dokter. 

Anehnya, saya tidak tertarik sama sekali menjadi dokter, iya saat anak-anak kecil ditanya “sudah besar mau jadi apa?” pasti jawabannya “Jadi DOKTER”, saya tidak. Mereka belum tahu saja bedah membedah dari kodok sampai mayat, jaga malam, seramnya hingga menyedihkannya Rumah Sakit, dan berbagai hal yg menurut saya tidak menyenangkan lainnya. Dari kecil-sampai saat ini saya tidak pernah sama sekali ingin menjadikan dokter sebagai pekerjaan, bukan karena saya tidak bisa membantu orang lain, bukan. 

Apa yaa… anggapan saya pada Rumah Sakit memang seburuk itu, tempat banyaknya harapan kehidupan-kesembuhan, tempat dimana pilihan tentang lahir-hidup-mati, sakit-sehat-tak berdaya, harapan-kekecewaan-keadaan, administrasi-operasi, apapun itu, terserah, menurut saya itu tidak menyenangkan.

Oh iya, hampir lupa saya akan bercerita tentang sedihnya tidak bisa ikut bimbingan belajar, iya, lagi-lagi karena uang. Ingat ada seorang teman yang bertanya “Dev kalau gak les mana bisa masuk PTN?” untukmu, temanku, dan orang-orang yang masih memiliki anggapan seperti itu, aku hanya ingin memberitahu, ini bukan masalah dimana kamu les, berapa besar biaya kamu les, berapa lama kamu les, bukan sayang, ini tentang takdir. 

Iya, tahukah kamu tentang: mau sebagaimana kita mengusahakan suatu hal, jika hal itu bukan untuk kita, sekeras apapun usaha, jawabannyaa akan ‘tidak’?. Lelah saja rasanya, menanggapi perihal les, bimbingan, belajar bersama, apapun itu. 

Temanku, kalaupun aku atau kedua orangtua-ku mampu, aku sudah les jauh-jauh hari, untuk mengejar mimpiku tentunya, adakah orang yang ingin memiliki pengetahuan terbatas? Tidak sayang, tidak ada. Kamu, aku, bahkan semuanya ingin berwawasan luas, sekarang aku hanya ingin bertanya, apakah dengan kamu ikut les kamu masuk perguruan tinggi negeri?

Apakah pertanyaanku terkesan menyinggung? Maaf dan Tolong teman, belajarlah untuk tidak mempertanyakan hal yang akan membuat orang lain sakit.


Perihal banyaknya masalah yang datang saat penghujung tahun kelas 12, saya lelah sepenuh mati. Nyerah sama keadaan, bolos sekolah pura-pura sakit karena sesakit itu untuk datang ke sekolah, lelah belajar, banyak tuntutan, permusuhan, apakah ini berlebihan untuk ditanggapi saat saya waktu itu akan menghadapi ujian?

Jelas sangat berlebih beban ini jika saya pikirkan, bayangkan saja, tahun terakhir yang seharusnya diakhiri indah, hancur hanya karena kebodohan yang saya lakukan, sehingga sahabat saya, teman sebangku saya menjadi orang asing yang tidak seperti biasanya, itu sulit, itu sakit.

Tidak tahu saya harus bagaimana menghadapinya, Karena menjauh itu sulit, karena terbiasa bisu dengan orang yang biasanya menjadi pendamping cerita sehari-hari, itu sangat sulit. Tahu bagaimana saya menghadapinya? 6 buku latihan ujian nasional bekas saudara saya habisi dalam kurang lebih 1 bulan bersama Rany dan Aysah. Hasilnya? Saya makin stress hahahaha.
(hallo ayasa, raraan kalo baca ini! hehehe)


UN berlalu, ikut pmdk UNPAR dan gak lolos, saya kurang mampu dan kurang pintar menaklukan UNPAR, lolos seleksi pertama SNMPTN hasilnya ditolak.. harapan terakhir SBMPTN yang jujur sangat tidak saya inginkan, iya karena saya beranggapan hanya akan buang uang kalau hasilnya tidak memuaskan, namun melihat mama yang berjuang cari uang untuk pendaftaran buat saya sadar, ‘dev berjuang!

Bukan demi uang, universitas negeri, masa depan, ini demi mama’.  Saat itu, punya uang Rp10.000 aja nggak, Alhamdulillah biaya pendaftaran SBMPTN dibantu oleh saudara, karena itu pula keinginan belajar saya menguat, karena gak mau bikin yang bayarin kecewa, hahahaha beli buku SBMPTN man saudara saya Hanum, temanya, Vira menjual buku itu setengah harga, dia beli Rp.80.000 dijual Rp.40.000 berikut saya hanya mampu bayar 20 dulu hahaha sisanya dibayarin Hanum, diam-diam.

buku sbmptn murah
Gambar hanya Ilustrasi



Pengumuman SBMPTN hari itu diumumkan pukul 2 siang Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB), paginya saya mencari perguruan tinggi swasta di Jakarta, karena saat itu mama lagi bertarung nasib di Ibu Kota, bikin rumah makan masakan sunda bersama kakaknya. 

BINUS, BAKRIE UNIVERSITY, PERBANAS, PARAMADINA, adalah 4 tempat kuliah yang biaya semesternya, bikin saya ingin bunuh diri. Harapan saya rubuh untuk kuliah tahun kemarin, membayangkan akan menjadi jamur macam apa saya jika diam dirumah 1 tahun menunggu ujian saringan masuk universitas tahun ini. 

Nangis? Iya selama perjalan pulang dari tempat kuliah terakhir yang saya survey air mata saya tidak bisa saya tahan dan hentikan. Pukul 1 siang, di Grup Line teman-teman kelas saya pada deg-degan, saya? Makin deg-degan, dan makin nangis. Pukul 2 siang, gak berani buka, setelah banyak teman yang mengumumkan bahwa mereka tidak lolos, niatnya; web laknat itu tidak akan saya buka sampai pagi esok hari, setelah terpikirkan untuk sholat malam agar diberi keikhlasan (iya saya lebay).

Namun, karena hasutan-hasutan teman “buka dev ih biar gak penasaran” bingung, ini yang penasaran saya atau dia, hahaha akhirnya pukul 4 saya buka. Hasilnya? Jauh dari apa yang saya bayangkan, memang ya rencana-Nya tidak ada yang tahu.

Saya lolos seleksi SBMPTN dipilihan kedua, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA- Prodi Pendidikan Bahasa Jerman. Saya nangis, nangis sedih karena lolos SBM dan gak bisa ikutan usm 3 UNPAR. Mama saya nangis, nangis bahagia anaknya bisa kuliah.


Pintu Saya adalah Jakarta!

Jakarta (source: intisari.grid)


Pada akhirnya, kembali pada kalimat awal cerita ini, ternyata pintu rejeki untuk masa depan saya ada disini, di Jakarta, di Universitas ini, lalu saya harus belajar mengikhlaskan pintu yang bukan pintu takdir masa depan saya, yang lalu selalu ingin saya dobrak, memaksakan masuk. Teman, jika itu tidak terbuka, itu bukan pintumu. Bersabar, Allah tahu kamu sedang berjuang.


Inilah cerita saya, cerita tidak terduga dari anak yang terlalu suka berkhayal. Disini, di Ibu Kota ini, Jakarta, perjuangan saya berawal, perjuangan yang lebih menguras tenaga dari perjuangan-perjuangan sebelumnya, perjuangan yang lebih menuntut kesabaran dari kesabaran-kesabaran sebelumnya, perjuangan yang menghasilkan kekuatan dalam diri ini, arti dari segala pelajaran dan makna hidup yang lebih ‘hidup’.

Saya, Devi Aprilia Nita, yang selalu merindukan Bandung dan dia, mengungkapkan terimakasih sama kamu, udah mau baca, dan udah mau saya minta waktunya. Lagi-lagi saya harap tidak ada yang sia-sia, semoga setidaknya ada sedikit pelajaran dari cerita pengalaman saya setelah ini. 

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya ceritakan, tentang kelulusan hingga mencoba ikut tes kuliah di Belanda yang pengurusannya lebih ribet dari apapun hal ribet didunia ini, tapi saya takut kamu bosan, sampai sini aja ya?


Sampai jumpa, para pejuang! Sampai bertemu di masa depan yang gemilang.
Salam sayang dari saya dan Ibu Kota kita, Jakarta.

Aku hanyalah seorang yang biasa saja, tak ada sedikitpun hal yang spesial dariku. Kisah ini akan kumulai saat aku berada di kelas 11, karena...


januari-lazuari-teknik-informatika-unpad


Aku hanyalah seorang yang biasa saja, tak ada sedikitpun hal yang spesial dariku. Kisah ini akan kumulai saat aku berada di kelas 11, karena kehidupan kelas 10-ku sama sekali tak ada hal yang bisa diceritakan karena terlalu monoton.

Kelas 11, adalah masa-masa paling lowong seseorang saat SMA. Dan yang kulakukan bukan belajar, yang bisa kulakukan hanya bermain dengan hapeku. Tiap ada jam kosong, istirahat, sebelum pulang, pastinya main hape, tak pernah kulewatkan sedikitpun. Ikut bimbel pun hampir tak menambah jam belajarku karena disana aku tetep keseringan main hape.

Perkembangan pendidikan yang kumiliki bisa dibilang buruk. Selalu menyontek tiap ada PR, ulangan tetep nyontek, bahkan UTS dan UAS sekalipun. Itu sudah kulakukan semenjak kelas 10 (sampai menjelang akhir kelas 12).

Saat kelas 12, hapeku rusak. Bukannya belajar, aku sekarang jadi tukang tidur. Apalagi beberapa temanku sering mengambil matras dari ruang olahraga tanpa izin, dan beberapa orang anak tidur disitu, termasuk aku tentunya. Bahkan beberapa guru pun tau aku jadi tukang tidur saat kelas 12. Tapi aku tetap menyadari kalau aku sudah kelas 12, harus belajar buat masuk kuliah nanti. Aku masih bimbel dulu, disitu aku maksimalkan belajarku. Semuanya berjalan lancar, sampai seminggu sebelum UN datang...

Keadaannya sedang di tempat bimbelku, saat pelajaran matematika. Aku sudah biasa bertanya pada gurunya, bahkan dari kelas 11. Tapi yang membuat semuanya jadi kacau, ada seseorang (yang dulunya temanku) tiba-tiba protes dan teriak, omongannya kasar, dan berkata seperti ini "Elu bisa diem gak sih? Dasar berisik!" (sebenarnya perkataannya lebih kasar dari ini, ini versi halus yang sudah kuterjemahkan sendiri).

Disitu aku mulai syok, dan guru les-ku mencoba menenangkanku. Setelah itu, aku tak pernah bicara dengannya lagi, padahal dulu kita satu sekolah dari SMP-SMA, dan dia sukses menhancurkan semua kenangan itu hanya dalam hitungan detik. Keadaan ini membuatku syok selama beberapa lama, dan hasilnya, nilai UN-ku terendah kedua di kelasku.

Aku mencoba bangkit, mulai dari menceritakan kisah ini kepada temanku, guru bimbelku, dan coba tebak. Tak ada yang suka dengan gayanya. Dan pada akhirnya aku ceritakan kisah ini pada psikolog-ku, dia bilang kalau jika sebelumnya gak pernah ada yang protes dengan gaya belajarku, berarti ada yang salah dengannya. Dan sikap yang dia tunjukkan, hanya membuktikan dia sudah kalah duluan, dan dia menyarankanku untuk tetap fokus. Psikolog-ku benar, aku harus fokus, melupakan apa yang telah lalu, dan menganggapnya tidak pernah ada. Dua bulan yang kumiliki bukan hanya untuk belajar, tapi juga memulihkan diri dari rasa syok ini.

Sehari sebelum SBMPTN dilaksanakan, hatiku berdebar. Hanya ini satu-satunya harapanku karena aku tidak mendapat jatah mengikuti SNMPTN, dan aku tidak suka kedinasan. Harus berhasil atau ulang lagi tahun depan, karena aku tidak boleh kuliah di swasta. Disaat SBMPTN tiba dan aku sudah menerima soal Saintek, aku sedikit kebingungan dengan soalnya, benar-benar soaln dengan kesulitan tingkat tinggi. Keringat dingin mulai bercucuran. Hingga aku secara tak sadar aku menengok ke arah kanan dan melihat tembok dengan sebuah pajangan "Jika kau gugup dan resah, ingatlah Tuhanmu" seketika aku menjadi tenang dan mulai bisa mengerjakan soal Saintek. Sebenarnya aku masih dilanda rasa aneh karena aku hanya mengisi sedikit sementara peserta lain mengisi sangat banyak, bahkan hampir semua. Hingga pada akhirnya aku hanya bisa kerjakan 14, tidak sampai seperempatnya.

Setelah istirahat selama setengah jam, aku kembali ke ruangan dan mulai mengerjakan TKPA, disini aku sedikit lebih santai karena disini keahlianku. Tapi aku tetap dilanda rasa aneh karena disaat aku mengisi banyak, orang lain hanya mengisi sedikit.

Bel pun berbunyi, tanda ujian sudah selesai. Petugas bilang "Semoga sukses!" sebelum dia pergi.

Setelah ujian selesai, aku merasa lega, bahkan ayahku langsung memperbolehkanku bermain dengan temanku.

Saat pengumuman hampir tiba, biasanya orang lain membuka hasilnya di rumah masing-masing, tapi aku tidak. Aku disuruh liburan ke luar kota oleh ayahku, tapi aku tidak sendiri, kakakku akan mendampingi, dan akan tinggal sementara di rumah saudaraku. Keputusan ayahku adalah suatu hal yang penuh risiko jika misalnya aku gagal mendapatkan kelulusan SBMPTN, dia bisa mati konyol karena sudah terlanjur menyuruh anaknya liburan ke luar kota.

Saat hari pengumuman tiba, hatiku berdebar semakin kencang, tidur tak nyenyak, dan situs yang tak bisa diaksek karena saking banyaknya orang yang mau mangakses. Saat aku coba membuka, aku lulus.

Ini bukan mimpi kan?

Aku memang tak sedang bermimpi. Aku lulus, LULUS! Diterima di pilihan pertama, Teknik Informatika Unpad!

Aku senang karena aku diterima, beberapa saudaraku mengucapkan selamat, dan.. setidaknya ayahku gak mati konyol. Aku pulang ke Bandung dengan rasa bangga, aku yang tak mengira, dari seorang pemalas tingkat akut, bisa diterima di Universitas yang peminatnya paling banyak sejak tahun 2011

Sekian kisah perjuanganku, apapun dirimu, selama kau mau berusaha, semuanya itu mungkin.

Bismillāhirrahmānirrahīm. Assalamu’alaykum warahmatullāhi wabarakātuh Halo teman-teman semua, nama saya Lulu Nurani. Saya lahir di Bandung...


lulu-nurani-pendidikan-agama-islam-universitas-pendidikan-indonesia


Bismillāhirrahmānirrahīm.
Assalamu’alaykum warahmatullāhi wabarakātuh

Halo teman-teman semua, nama saya Lulu Nurani. Saya lahir di Bandung pada tanggal 23 Agustus 1998. Saya merupakan anak tunggal, Ayah saya bernama D. Wawan dan Ibu saya bernama Heni. Ayah saya bekerja sebagai seorang pabrik sedangkan Ibu saya adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang dengan ikhlas selalu mengurus saya dan juga ayah saya. Subhanallah mulianya pekerjaan Ibu saya ini ^_^ Cita-cita saya yaitu ingin menjadi seorang pendidik, entah itu sebagai guru TK, SD, SMP, SMA ataupun menjadi seorang Dosen. Aaamiin.. 

Hobi saya yaitu membaca buku yang berhubungan dengan pelajaran disekolah, membaca komik ataupun cerita pendek yang memotivasi, tapi kalau untuk membaca Novel saya kurang suka karena ceritanya terlalu panjang. Nah disini saya akan membagi cerita saya saat di SMA dulu, tepatnya di SMAN 17 Bandung.

Oke dimulai saat kelas 1 ya, awal masuk sekolah seperti biasa ada yang namanya Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang selalu bikin deg-degan. Lalu kemudian masuk pada hari pertama pembelajaran waktu itu saya dan teman-teman saya terlihat masih imut-imut gitu. Saya ini orangnya pemalu kalau didepan umum, saya melihat teman-teman saya sangat antusias dalam menjawab pertanyaan guru dan mencoba untuk mengisi soal di depan sedangkan saya hanya terdiam mencoba mengerjakan soal tersebut dibangku saya saja.

Saat diberikan tugas tentang matematika, kimia, fisika, biologi saya sering kali kewalahan karena hanya memiliki buku seadanya yang disediakan oleh sekolah. Sedangkan teman-teman saya dengan mudahnya mengerjakan tugas karena dibantu dengan LES dan juga buku sumber yang lainnya. Terkadang saya suka bertanya isi tugas yang tidak bisa saya kerjakan kepada temen-teman yang LES.  

Saya jadi putus asa sebenarnya, Tapi orangtua saya selalu mendengarkan saya dan memotivasi saya untuk mencoba dan berusaha, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi orang yang lebih rajin lagi membaca buku dan juga mencari rumus2, karena kalau minta di Les kan orang tua saya tidak memiliki cukup uang untuk itu. saya juga memaksakan diri untuk aktif dikelas tapi tentu jangan asal2an bicaranya tetap harus difikirkan. Alhamdulillahh tidak disangka-sangka akhinrnya saya meraih juara 2 dikelas berkat usaha saya belajar dengan maksimal.


Di kelas 2, dihadapkan dengan guru guru yang menurut saya agak menegangkan. Tapi jujur justru guru yang seperti itu lah yang saya sukai namun memang tetep aja bikin takut dan deg degan. Tapi justru dengan adanya guru-guru yang seperti itu menambah motivasi saya untuk belajar  takut dimarahin kalau gak bisa. Alhamdulillah saya dan teman-teman saya dipercaya untuk mengikuti lomba kimia, dan ternyata soalnya susah banget, begitu pulang ketemu guru pembina kami, kami langsung putus asa sepertinya kami tidak akan menang.

Tapi ternyata Allah berkehendak lain, saya dan salah satu teman saya berhasil lolos menuju tingkat berikutnya dan pas mengikuti tingkat berikutnya kami gugur, tapi tidak apa apa yang penting punya pengalaman. Tapi guru pembina kami yang sangat baik yaitu Bu Imas, beliau tidak pernah memaksa kami untuk menang tapi beliau bilang yang penting berusaha saja dulu hasilnya kita serahkan pada Allah, tidak apa-apa kalah juga… uuh menyentuh sekali.. kadang kami di traktir makanan juga sama Ibu Imas, benar benar seperti Ibu kami sendiri. 

Di semester ini juga berhubung saya mengikuti ekstrakulikuler PMR saya dan anggota PMR yang lain mengikuti perlombaan di 2 sekolah Alhamdulillah saat itu saya dan temen2 saya bisa menjadi juara juga di salah satu perlombaan itu. Total perlombaan yang saya ikuti yaitu, 4 kali lomba kimia dan 2 kali loba PMR. Seharusya saya bisa menerima 6 sertifikat baik itu hanya sebagai peserta atau pun pemenang , namun ternyata saya cuman mendapatkan 2 sertifikat saja yang ada di salah satu perguruan tinggi.

Kenapa coba???? Jadi kesalahannya itu adalah ketika saya menyelesaikan lomba, saya itu tidak langsung meminta sertifikat, jadi waktu itu sertifikatnya dititipkan ke guru saya dan saya lupa menagih, dan saat saya tagih ternyata sudah hilang begitu saja. Lomba PMR juga gak dapet sertifikat karena kaka pembinanya sibuk dan memang harus selalu kita ingatkan tapi lupa lagi lupa lagi dan akhinnya hilang juga. 

Maafkan ya saya tidak berniat menyombongkan diri karena saya hanya ingin membagi pengalaman saya untuk dapat diambil hikmahnya dan jangan sampai melakukan kesalahan yang udah saya ceritakan ini.

Di kelas 3 yaitu detik detik menuju UN. Kami tidak bisa ikut lomba lomba karena memang sudah harus difokuskan. Tapi jujur entah kenapa saya merasa semangat belajar saya menurun dan nilai kimia saya juga menurun. Jujur sangat sedih padahal tadinya saya mau milih jurusan kimia di UPI tapi jadi nge down deh..  seperti biasa persiapan UN hanya saya andalkan kepada pemantapan disekolah saja, mau bagaimana lagi saya tidak punya uang untuk LES.. Saat pemasukan data SNMPTN sebenernya saya disuruh Pa Eka untuk mencoba memilih ITB karena nilai rapot saya cukup baik, namun saya tidak memiliki percaya diri yang tinggi.

Saya takut  tidak bisa mengikuti pelajaran disana karena disana kan tempatnya orang-orang jenius dan akhirnya saya memilih jurusan pendidikan kimia di UPI karena saya suka kimia walaupun disemester akhir nilai saya menurun. Yang kedua saya memilih Ilmu Pendidikan Agama Islam di UPI karena saya pikir saya juga membutuhkan Ilmu Agama itu penting bagi saya dan juga orang-orang sekitar saya.

Dan Alhamdulillah ternyata saya diterima dipilihan kedua, awalnya sedih namun seperti saya memiliki orang tua yang bijak mereka berkata bahwa "inilah pilihan dari Allah". Inilah yang terbaik untuk Lulu, tidak ada salahnya mendapatkan jurusan ini.. justruu jurusan ini selain untuk dunia bisa juga untuk akhirat. Apalagi lulu seorang perempuan kalaupun ingin menjadi guru silahkan, tidak pun tidak apa-apa karena jika suatu saat lulu menikah dan memiliki keluarga juga memiliki anak lulu bisa menerapkan dan mengamalkannya kepada keluarga lulu dan juga lingkungan sekitar.. aamiinn…

Nah udah selesai cerita pengalaman saya,, jadi saya berpesan kepada teman-teman untuk jangan putus asa ya.. Allah itu adil semua orang juga diberikan otak yang sama jadi kita semua memliki potensi untuk menjadi orang yang cerdas asalkan kita mau berusaha, hilangkan rasa malas rajin rajin membaca dan juga latihan. Yang akan menjadi pemenang adalah orang yang ulet dan orang yang tekun.. proses tidak akan mengkhianati hasil.

Ingatlah bahwa Allah maha melihat, Allah itu maha adil. Jangan kecewa dan putus asa jika kita belum bisa mendapatkan nilai yang baik, karena sesungguhnya nilai itu bukan hanya sekedar angka saja tapi justru yang diharpkan adalah nilai yang selalu kita implementasikan dalam hidup kita. Jangan sampai nilai Biologi kita 100 tapi dalam kenyataannnya kita memakan makanan tidak sehat. Seperti makanan yang berpengawet dan berwarna. Tapi, jadilah orang yang memiliki nilai biologi tapi juga menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Ingat ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat kita amalkan.

Assalamu’alaikum.. Aku Rahayu Ramadhayanti. Temen-temen suka panggil aku Yayu atau engga Rotung. Jangan Tanya kenapa dipanggil rotung ya.. S...


Assalamu’alaikum.. Aku Rahayu Ramadhayanti. Temen-temen suka panggil aku Yayu atau engga Rotung. Jangan Tanya kenapa dipanggil rotung ya.. Soalnya aku disini bukan mau bahas itu :) Aku punya cerita, walaupun ngga bisa dibilang menarik sih, disini aku mau share sedikit aja tentang perjuangan aku masuk di ptn yang kadang aku masih suka ngga percaya kalo aku dikasih kesempatan buat nuntut ilmu disana.

Sebenernya sih, bisa dibilang ngga perjuangan banget ya. Soalnya waktu tahun pertama aku sekolah di 17 tuh ngga ada kepikiran buat ngejar kuliah. Aku yang waktu itu ngerasa down banget, ngejalanin sekolah ya gitu, rada asal-asalan. Sampe-sampe aku pernah dikasih nilai 0 gara-gara ada salah paham sama gurunya.

 
Bisa dibilang, aku murid yang biasa banget. Diliat dari segi apapun, gaada hal yang bisa dibanggain dari diri aku. Aku gapunya hal yang bikin aku beda dari orang lain. Segala standar. Tapi waktu itu, aku emang punya banyak impian. Pengen jadi inilah, itulah. Tapi gaada aksi nyatanya.

Sampe ya itu tadi, aku ketampar sama kejadian yg gabisa dilupain. Disaat aku bener-bener belajar buat ujian dan dapet hasil bagus, gurunya ngga percaya karena sehari-hari kelakuan aku ngga sesuai sama hasil yg didapet, begitu di tes ulang dalam keadaan masih kaget, akhirnya dirubahlah hampir semua jawaban dan anjloklah nilainya:) hehe. Tapi ngga apa-apa. Aku emang nangis waktu itu, dan dari situlah aku dapet motivasi buat belajar yang bener.

Awalnya sih motivasinya jelek ya cuman buat pengen ngebuktiin aja sama gurunya kalo aku juga bisa. Tapi lama-lama, pikiran itu berubah juga. Kalo aku emang bener-bener, aku bisa kok. Semua orang bisa. Semua orang punya peluang yang sama. Barulah motivasi aku lurusin waktu di tahun kedua. Ternyata berhasil. UNTUK PERTAMA KALINYA, aku bisa masuk ranking kelas. Jujur aja, selama aku sekolah dari SD sampe SMA baru pertama kali aku bisa masuk ranking. Kasian ya, tapi emang gitu keadaannya.


Tapi dasarnya manusia semangat selalu naik turun, di semester kedua aku terlalu mikirin ‘hal’ lain, jadi melupakan tujuan awal. Disini aku lagi gentar-gentarnya ngurusin eskul dan ‘hal’ lain yang mengganggu banget. Akhirnya, aku kembali jatuh di ranking tengah-tengah. :) Tapi ngga apa-apa. Toh kesuksesan itu bukan cuman buat orang yang pinter aja dengan nilai bagus. Justru pengalaman-pengalaman diluar kelas itu lebih bermakna buat perkembangan kita kedepannya. Bener ngga nih?

Di tahun ketiga lah orang-orang mulai pusing mikirin masa depan. Teman-teman seperjuangan satu persatu ikut tes masuk perguruan tinggi ini-itu. Coba daftar jalur ini-itu. Les segala macem disini-disitu. Sedangkan aku, keinginan ada, tapi peluang ngga memungkinkan. Orangtua aku bukan orang yang berlebih. Untuk ikut tes ini-itu dengan biaya yang ngga sedikit, udah pasti aku ngga akan bisa ikut.
Akhirnya, aku cuman bisa telen ludah dan jadi pendengar setia cerita kawan-kawan yang mencoba daftar perguruan tinggi. Aku sendiri sih ikut seleksi masuk ptn dengan 3 jalur. Pertama SNMPTN, aku ditolak mentah-mentah karena memang memilih jurusan tanpa tau diri. Mengira proses penerimaan di jalur ini dengan modal untung-untungan. Padahal kan ngga gitu.


Saat penolakan dari saringan ini, sebenernya aku jadi mikir kemampuan aku ngga sesuai sama keinginan aku. Tapi, disitu aku coba yakinin diri aja. Saking kepengennya aku masuk UNPAD di jurusan apapun dalam rumpun kesehatan. Nah, saringan kedua yang aku ikutin tuh PMDK POLBAN. Sebenernya aku ngga niat-niat banget. Ngumpulin berkasnya aja cuman dalam waktu 2 hari. Ternyata ditolak juga. Ngga apa-apa. Emang nilai rapot aku ngga bagus-bagus amat ko.

Saringan ketiga yang aku ikutin, yaitu SBMPTN. Yang soal-soalnya udah pernah aku liat beberapa bulan sebelumnya dari hasil try out yang aku ikutin sekali-kalinya. Juga dari buku yang aku beli dari pameran buku-buku lama. Aku belajar ngerjain soal ya dari buku terbitan lama aja. Ditambah beberapa kali bolak-balik Perpustakaan Bandung (yang di caringin) buat nyari-nyari materi sambil baca-baca aja.
Detik-detik terakhir aku ngisi halaman administrasi pendaftaran online, ibu sama ayah nyaranin aku pilih program studi perikanan di unpad. Awalnya aku pikir ‘Ih, apaan sih perikanan? Ngapain coba ikan diurusin?” Tapi setelah dijelasin dan blablabla, dengan berat hati aku ganti pilihan ke-2 aku yang masih rumpun kesehatan dengan perikanan unpad.


Ternyata eh ternyata. Aku memang ditakdirkan untuk berkutat dengan para ikan. Walaupun awalnya aku masih agak sangsi sama prodi yang akan aku jalani ini (ditambah temen-temen pada mikir hal yang sama “Apa sih perikanan? Jadi apa coba nantinya?”), akhirnya aku menerima juga.

 
Daaaaan.. Gaada hal yang remeh di dunia ini. Setelah satu semester aku jalani berkutat dengan dunia air yang mempesona banget, aku mulai jatuh cinta sama si makhluk ajaib bernama ikan dan dunianya yang biru. Untuk masalah kedepannya, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Toh orang yang sukses bukan cuman orang yang pinter aja. Orang yang dibilang sukses itu bukan cuman dokter aja kan?

Kesuksesan itu dilihat dari mana kita melihatnya, berdasarkan sudut pandang yang berbeda beda. Dan buat aku, sukses itu bukan melulu punya duit banyak. Jabatan tinggi. Punya gelar panjang. Orangnya bergengsi. 

Tapi, mencapai setiap goals yang kita buat juga merupakan kesuksesan tersendiri. Sekecil apapun goals itu (walaupun misal cuman pengen beli ikan cupang yang bagus, murah dan jagoan), kalau tercapai namanya sukses. Buatku sih.


Wah, ternyata kepanjangan. Segitu aja cerita dari aku, mohon maaf kalo ada salah-salah kalimat. Wassalamu’alaikum:)

Rahayu Ramadhayanti

S-1 Perikanan Universitas Padjajaran

Hi nama aku Alifia Rachma Ryanthie. Aku lahir dan tinggal di Bandung. Disini aku bakal nyeritain kejadian yang terjadi saat aku sekolah di S...




Hi nama aku Alifia Rachma Ryanthie. Aku lahir dan tinggal di Bandung. Disini aku bakal nyeritain kejadian yang terjadi saat aku sekolah di SMAN 17 Bandung, sampe akhirnya aku kuliah di Politeknik Negeri Bandung. Mungkin, ceritaku gak akan menginspirasi jadi dimohon untuk diambil yang positifnya aja ya.


Saat pendaftaran ke SMA, aku udah nolak beberapa kali gak mau masuk dan gak mau milih 17 buat jadi pilihan 2. Kenyataannya, aku berakhir di 17. Awalnya kerasa berat dan aku emang terpuruk banget. Jangankan untuk ditanya betah atau gak di 17, ditanya sekolah dimana aja aku udah nangis duluan. Ini bukan drama loh, serius. Dan itu berlangsung beberapa minggu. Setelah itu, aku coba nikmatin aja dulu. Karena kalo mutasi, takutnya malah gak betah.


Pas dikelas X, walikelas aku Bu Atik. Guru MTK. Beliau selalu bilang kalo emang gak bisa dan gak sanggup di IPA harus cepet pindah ke IPS. Saat itu, makin aja aku down. Aku emang gak terlalu bisa MTK, tapi aku lebih suka MTK daripada fisika, kimia, dan biologi. Aku pernah nanya ke beliau apakah aku pantas di IPA atau lebih baik pindah ke IPS aja. “Dibanding yang lain, ya..kamu mending di IPA aja” jawab beliau. Karena jawaban beliau begitu, aku terus bertahan di IPA. Selama aku sekolah disini, aku gak pernah masuk 10 besar. Kesel sih, tapi ya ikhlasin aja. Yang penting, setiap ulangan aku jujur. Ini emang udah jadi komitmen aku dari SD kalo gak salah, kalo tugas aku masih boleh kerjasama tapi kalo buat ulangan, aku harus jujur. Gak boleh nyontek, gak boleh nanya, atau apapun.


Dikelas XI, walikelas aku Pak Rachmat. Guru MTK juga, suaminya Bu Atik. Dimasa ini, seinget aku susah banget dapet nilai bagus di MTK. Nilainya tuh pasti yaampun gak banget deh. Pak Rachmat tuh guru favorit aku. Menurut aku, beliau tuh baik banget. Pernah waktu itu saat pembagian apa ya aku lupa, pokoknya orang tua kita disuruh dateng. Pas udah selesai, aku liat nilai dan aku nanya ke ibu aku tadi Pak Rachmat bilang apa aja, nilai aku gimana atau apa gitu. 

Terus, ibu aku malah senyum dan bilang “Pak Rachmat cuman bilang gini, Alifia tuh udah bagus kalo ulangan suka kerja sendiri, jujur. Tapi alifia teh kurang rajin, jadi nilainya segitu aja.”Selama ini, guru-guru tuh paling cuman bilang di depan kelas kalo murid tuh harus jujur blablabla. Tapi ini, beliau bilang langsung, ke ibu aku lagi. Gimana gak seneng coba, serasa hasil kerja keras aku tuh dihargai banget. Dikelas XI ini juga aku pernah ikutan lomba Bio Farma English Speech Contest 2014, awalnya tuh ngirimin video speech kita gitu terus aku gak nyangka bisa masuk 50 besar. 

Aku orangnya kurang bisa tampil didepan banyak orang, jadi pas final aku gak maksimal. Kaku aja gitu pas speech, padahal waktu itu aku dapet tema yang gampang daripada yang lainnya. Kalo gak salah, aku dapet tema tentang kenapa aku bisa sampe di final ini.


Dikelas XII, aku ikutan Pemilihan Duta Bahasa Pelajar Jawa Barat 2015. Disini, aku dibantu sama seorang guru bahasa inggris yang ngebantu aku juga pas lomba Bio Farma English Speech Contest 2014, Pak July. Guru favoritku juga. Beliau tuh baik, sabar banget ngehadepin aku. Seleksi awalnya, kita disuruh ngirim essay (aku lupa tentang apa).

 
Saat pelajaran bahasa indonesia, aku pernah dapet telepon dari nomor gak dikenal. Karena aku orangnya parnoan, aku gak mau jawab. Tapi akhirnya, telp itu diangkat sama temen aku. Pas diangkat, suaranya cowok dan dia juga takut jadi langsung dimatiin telepon-nya. Gak lama dari situ, aku stalk twitternya duta bahasa pelajar. Dihari itu, aku baru inget ada pengumuman untuk yang masuk 100 besar. Ternyata, ada nama aku disitu. Dan disana tertera nomor telepon yang nelpon aku tadi.

Disalah satu tweetnya itu bilang, kalau telp-nya gak diangkat, dinyatakan gugur. Gilak gak tuh. Nangis aja aku disitu, terus aku nyari-nyari Pak July tapi gak ketemu. Katanya beliau lagi ada urusan, jadi keluar dulu. Gak lama, aku dipanggil sama Pak July. Udah langsung bawel aja tuh aku cerita ini itu, pas aku udah selesai beliau cuman senyum terus bilang aku tetep lolos kok, tadi beliau keluar juga untuk Technical Meeting di Balai Bahasa Kota Bandung.

Alhamdulillah ya Allah. Tapi, aku cuman bisa sampai 100 besar. Karena pas saat penyisihan jadi berapa besar gitu lupa, aku gak lolos. Gak heran jugak sih, aku emang gak maksimal pas ngerjain essay 3 bahasa. Tapi, aku merasa beruntung dan bersyukur.

Dari dulu, aku gak pernah ikut bimbel. Kadang suka iri banget ngeliat anak yang sibuk bimbel dan tujuan cita-citanya tuh jelas. Dia mau ambil jurusan apa, dia mau kerja dimana, dan dia ingin jadi apa tuh dia tau, sedangkan aku gak pernah yakin. Tapi, Pak July pernah bilang ke aku, kalau kita kuliah tuh jangan mikirin tentang prospek kerjanya. Pikirin aja kalo kita kuliah tuh untuk ngejar ilmu. Dan aku setuju banget sama beliau.

Pas SNMPTN tuh kan ada kuota ya yang boleh ikut berapa persen. Karena SMAN 17 Bandung akreditasinya A, jadi dapet kuota SNMPTN nya 75%. Lumayan kan, tapi tetep aja aku gak masuk kuota itu. Aku ngerasa paling bodoh banget, bodoh banget jadi orang. Dari situ, aku udah males banget mikirin negeri. Pengen swasta aja udah, pikirannya udah swasta banget. Cuman pas PMDK Polban, aku bisa ikutan karena temen aku gak ngambil itu.Jadi dikasihin ke aku gitu.

Aku ambil Jurusan Bahasa Inggris tapi aku gak masuk. Lagian, jujur aja. Aku sama sekali gak tertarik sama Polban. Gak tau kenapa. Selama jeda itu, aku mikirin lagi aku mau ambil apa. Dan akhirnya aku memutuskan ingin ambil Fikom. Dari awal, aku kan keukeuh pengen bahasa Inggris (walaupun ditentang keluarga besar yang lebih menyarankan ambil akuntansi atau teknik) tapi ini tiba-tiba mau ambil fikom. Awalnya ayah gak terlalu setuju, karena ayah takut aku ngambil fikom cuman ikut-ikutan temen aja. Tapi aku yakinin, aku ambil fikom karena ingin ambil jurnalistiknya. Aku ingin kerja di penerbitan majalah gitu jadi editor.

 
SBMPTN pun tiba, karena udah ngerasa males dari waktu itu. Aku belajar SBMPTN sama sekali gak bener. Aku ambil SBMPTN SOSHUM. Saat ditengah-tengah pelaksanaan ujian TPA, asam lambung aku kambuh. Jangankan untuk mikir, untuk napas dan duduk tegak aja susah. Makin gak konsen aja kan tuh ngerjainnya. Magh itu berlangsung sampe aku beres ngerjain soshum juga. Makannya, aku gak terlalu berharap sama hasilnya. Udah yakin aku pasti gagal.


Untuk jaga-jaga, aku ambil Ilmu komunikasi disalah satu Universitas Swasta L. Awalnya aku bingung mau ambil di Universitas Swasta IB atau L. Setelah banyak mikir, akhirnya aku milih Universitas Swasta L . Swasta L itu emang gak bagus, tapi gak jelek juga. Cuman emang, akreditasi fikom disitu B. Dan di universitas IB itu A. Banyak yang bilang kenapa aku gak milih universitas IB yang udah jelas-jelas bagus. Beberapa anggota keluarga besar juga rada gimana pas aku ambil swasta L bukannya swasta IB. Yang awalnya aku sama sekali gak tertarik Polban, aku jadi tertarik. 

Karena ya aku ingin ngebuktiin aja kalo sebenernya aku juga bisa masuk negeri. Sebenernya sih, aku inginnya SMUP Unpad, tapi karena yang baru dibukanya kebidanan doang jadi yaudah deh aku ambil SMB Polban aja. Pas aku bilang aku mau ikutan SMB Polban, wajah ibu keliatan seneng banget. Mungkin gak nyangka kali ya, aku berubah pikiran yang tadinya ‘ogah’ banget masuk Polban.

Aku punya sepupu yang seumuran, dia juga berjuang untuk masuk Polban. Sebelumnya, dia pernah ikutan les untuk masuk stan, ujian stannya, poltekkes dll. Pokoknya dia tuh segala dicoba deh kalo boleh dibilang mah. Usahanya tuh maksimal. Gak kaya aku. Bukannya gimana ya, tapi aku ngerasa lebar aja gitu kalo aku nyoba-nyoba ikutan tes yang sama sekali gak aku inginin. 


Baca Juga: Cerita Alan Bisa Keterima di Politeknik Keuangan Negara STAN

Pas dia mau ikut SMB Polban, dia juga ikut les yang bayar berapa juta cuman buat beberapa kali pertemuan gitu biar berhasil masuk Polban. Dia juga minta ajarin ke aku, nah karena dia minta ajarin ke aku tentang mtk sama bahasa inggris. Sedikitnya juga, aku jadi belajar lagi. Waktu itu dia nawarin aku ikut Polban Fair, ada TO nya gitu. Boro-boro tertarik, aku langsung bilang gak mau. Tapi terus, dia apa eyang apa ibunya dia gitu bilang ke ibu aku kalau ada TO Polban dan aku gak mau ikut. Setelah itu, ibu nyuruh aku ikut. Katanya gak ada salahnya buat nyoba, siapa tau ngebantu. Ikutanlah aku. Dari soal TO itu, kita belajar lagi dibantu sama sepupu kita yang lulusan Unpad.

 
Pas hari H, aku cuman inget aku ngerjain ekonomi akutansi nya dikit banget. MTK kurang lebih aku ngerjain setengahnya yang aku yakin. Kalo bahasa indonesia, lumayan lebih banyak dari mtk. Buat bahasa inggris, aku ngerjain semuanya. Pas udah selesai, aku fotoin hasil jawaban bahasa inggris aku ke guru aku (lembar soalnya kan dibawa pulang). Beliau bilang cuman salah satu. Alhamdulillah lumayan tenang, tapi tetep aja diomelin kenapa soal yang gampang gitu bisa salah.


Pas pengumuman, aku keterima. Awalnya, ada niatan gak akan aku ambil. Tapi, ketika ngeliat wajah ayah sama ibu seneng aku bisa apa...


Sekarang, aku tau kenapa Allah nempatin aku di Polban. Saat pertama kali aku masuk Polban, selalu terdengar orang-orang yang bilang kalo di Polban tuh harus jujur. Jujur lebih diutamakan daripada nilai yang bagus. Hampir semua dosen juga bilang gitu. Disitu, saat itu, aku baru ngerti. Ternyata rencana Allah memang lebih baik daripada rencana kita sendiri. Mungkin juga, Polban adalah salah satu perguruan tinggi negeri yang menghargai mahasiswanya untuk jujur.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216)

“If you want to be successful, respect one rule: Never Lie To Yourself.” –Paulo Coelho

“Believe in your future and strive towards it, when you look back, you won’t even realise that your dream has come true instead you’ll realise that you have already walked so far.” –Kim Hyun Joong

Hallo Slanker! Sebelum bercerita perkenalkan saya Rizky Jano Ramadhan , dari Politeknik Negeri Bandung , Jurusan Teknik Konversi Energi , ...


perjuangan-jano-polban-d3-konversi-energi


Hallo Slanker!

Sebelum bercerita perkenalkan saya Rizky Jano Ramadhan , dari Politeknik Negeri Bandung , Jurusan Teknik Konversi Energi , Prodi D-III Teknik Konversi Energi , saya ingin sedikit bercerita bagaimana saya bisa sampai menempuh pendidikan di Politeknik Negeri Bandung ini.

Kembali ke masa saya SMA , yang sama seperti anak SMA lainnya (atau mungkin hanya saya). kesibukan saya sebagai pelajar SMA adalah bermain , status saya sebagai pelajar hanyalah sebuah hobi mengisi waktu luang , yang sayangnya saya tidak punya cukup waktu luang. Saya yang saat itu belum memikirkan ingin masuk universitas apa dan jurusan apa , terseret arus masa SMA , bersama teman teman hanya bercanda , nongkrong , dikejar guru karena celana ketat juga rambut gondrong. 

Begitu lucunya saat dipikirkan sekarang , karena apa yang kita lakukan pada masa itu sungguh kekanak-kanak , motto "Peraturan ada untuk dilanggar" sangat diaplikasikan di dunia sekolah. Tak terasa , yang awalnya seorang siswa baru akhirnya menjadi seorang senior yang menghadapi realita , mau lanjut kuliah dimana.

Tipe Pelajar Menghadapi Ujian Nasional

Ada beberapa tipe pelajar dalam menghadapi Ujian Nasional , ada yg sibuk gila-gilaan belajar , ada yang gila-gilaan mencari contekan , dan ada yang gila-gilaan santai , dan saya termasuk pada tipe terakhir. Kebodohan saya adalah , masih sempatnya bermain seharian pada tepat H-1 UN. Singkat cerita , Ujian Nasional pun terlewati. Saatnya mencari universitas apa yang ingin kita masuki , melanjutkan pendidikan , mulai menata masa depan , dan memikirkan kita mau jadi apa. Saat itu saya ingin sekali masuk universitas yang memiliki jurusan bisnis atau jurusan yang bersebrangan dengan jurusan saat saya di SMA , yaitu jurusan IPA , karena keterampilan saya pada bidang eksak hanya sekedar tepat KKM. 

Saya yang saat itu direkomendasikan (lebih tepatnya didoktrin) oleh orang tua untuk masuk Polban dari kelas satu SMA , sedikit berpikir dua kali untuk mencoba masuk , mereka mengatakan jikalau kita bisa kuliah di Polban , akan mudah mendapatkan kerja , saya yang waktu itu menyutujuinnya hanya sekedar tidak ingin merasa kuping panas mendengarkan penjelasan orang tua , wajar saja , orang tua ingin agar kita bisa hidup lebih baik dari mereka, tapi pada saat itu, saya masih merasa arogan, merasa bahwa saya sendiri dapat mengalahkan dunia, tanpa adanya bantuan dari siapa-siapa. 

Saya menolak ingin masuk Politeknik , saya ingin masuk Universitas , saya ingin mendapatkan pendidikan S-1.

Pada saatnya datang pembukaan Universitas , ada begitu banyak perguruan tinggi yang membuka jalur masuk ujian mandiri baik itu swasta maupun negeri. Saat waktu SBMPTN dibuka, saya tidak mengikutinya, karena saya optimis akan hanya ditolak, membuat luka hati orang tua tentu diri saya sendiri, saat ditanya orang tua mengapa tidak mengikutinya , saya memberi alasan tersebut. 

Ternyata , itu bumerang untuk diri saya sendiri, orang tua tidak mengizinkan dan membiayai saya jika saya masuk universita swasta , yang memang saat itu ekonomi keluarga sedang tidak stabil, jika memang ingin masuk universitas swasta, saya harus menganggur selama satu tahun , saya sangat tidak menginginkan itu. Bagaimanapun itu , menunggu satu tahun itu sangat membosankan.

Akhirnya datang lagi rekomendasi untuk mengikuti SMB Polban , bersama dengan rekan-rekan saya sang pejuang gagal SBMPTN , saya mengikutinya , hanya untuk menghabiskan penasaran orang tua. De Javu pun terjadi , saya bermain seharian H-1 ujian Saya hanya belajar fokus pada pilihan saya , saya cenderung cuek dengan pilihan yang lain. Dan saya hanya memilih satu jurusan yang saya ingin , tiga sisanya dipilihkan oleh orang tua , dan saya tidak tahu apa yang dipilih oleh orang tua saya. Saat ujian dilaksanakan pun, saya hanya mengerjakan yang saya bisa, dengan bebeberapa yang asal isi

Selang waktu setelah ujian dilaksanakan, saya kembali berleha-leha dengan bersenang-senang bersama teman teman saya, karena kita berpikir, setelah kuliah nanti, jadwal kita akan sangat berbeda , hargai jika ada waktu bersama. Hari untuk hasil seleksi pun tiba. Sama seperti tegangnya dengan pengumuman nilai UN , saya merasakan ketegangan , memang cukup aneh , saya yang tidak menginginkan masuk Politeknik , sama tegangnya dengan orang tua saya , mungkin karena saat itu , jikalau saya tidak diterima , saya akan menganggur selama setahun.

Dengan rasa pesimis karena tidak belajar, dan juga teman teman saya menyampaikan kabar mereka tidak diterima, saya semakin pesimis. Pada saat melihat pengumuman hasil akhir , secara mengejutkan saya diterima , dan saya memberi tahu orang tua saya, dan melihat wajah orang tua yang terlihat sangat bahagia , yang pada awalnya saya sekedar senang karena diterima , menjadi bahagia , melihat kedua wajah orang tua saya. Untuk pertama kalinya , saya melakukan hal yang dapat membanggakan orang tua saya. Dan pertanyaan yang memang penting datang "Diterima jurusan apa ?". Terlalu larut pada kegembiraan , saya lupa mengecek , dan secara tidak terduga , saya diterima yang benar benar saya tidak tahu apa maksud dari jurusan tersebut "Teknik Konversi Energi". Pilihan yang dipilih oleh ayah saya. Saya menanyakan mengapa ayah saya memilih pilihan tersebut , ayah saya ternyata mengetahui jikalau saya mempunyai potensi disitu.

Pada akhirnya , saya mengambil kuliah di Politeknik Negri Bandung , berkat doa orang tua dan seizin Allah SWT. , Alhamdulillah saya dapat berkuliah di Politeknik Negeri Bandung ini

Pesan saya , jangan mengulangi kebodohan saya , yang tidak belajar untuk UN dan SMB Polban. Selalu minta doa dari orang tua untuk diberi jalan terbaik. Jangan lupa juga selalu berkonsultasi apa keinginanmu dan juga apa potensimu , terkadang apa yang kita mau belum tentu menjadi yang terakhir

Pesan terakhir , Bekerja keraslah untuk mencapai suksesmu , karena sukses bukan berarti bergelimangan harta , tapi sukses adalah mencapai apa yang menjadi tujuan hidupmu

Kuliah ga kaya di FTV wahai Bani Adam

Salam gaul
Rizky Jano Ramadhan , Andhika wanna be

Halo perkenalkan nama saya Ruri Rahmaniar mahasiswa Politeknik Negeri Bandung jurusan Akuntansi dengan program studi D4-Keuangan Syariah. Sa...




Halo perkenalkan nama saya Ruri Rahmaniar mahasiswa Politeknik Negeri Bandung jurusan Akuntansi dengan program studi D4-Keuangan Syariah. Saya alumni SMAN 17 Bandung. Disini saya akan menceritakan perjuangan saya untuk masuk ke perguruan tinggi negeri dan perjalanan saya selama menjalani masa SMA sehingga menjadi seorang mahasiswa.

------

Pada kelas 10 saya langsung di juruskan ke jurusan IPS. Awalnya saya tidak mau menjadi anak IPS. Tapi, guru saya memberi motivasi bahwa tidak buruk untuk menjadi anak IPS, dan meyakinkan bahwa saya juga bisa berprestasi di kelas IPS ini. Terbuktilah pada semester 1 dan semester 2 saya mendapatkan peringkat 3. Pada masa itu saya masih buta akan pengetahuan tentang perkuliahan.

Kemudian naik ke kelas 11 saya mendapatkan kelas yang sebagian besar muridnya adalah laki-laki dan sebagian kecilnya adalah perempuan. Walaupun begitu tidak menutup jalan saya untuk menjadi siswa berprestasi. Selama kelas 11 saya selalu mendapatkan peringkat pertama di kelas. Sebenarnya pada masa ini, saya suka sekali main ke tempat yang bernuansa alam. Karena itu membuat saya nyaman dan mendapatkan kesenangan tersendiri. Namun saya juga tidak lupa akan kewajiban saya untuk belajar. 

Pada masa ini juga saya mulai termotivasi untuk masuk kuliah jurusan apa dan dimana. Teman saya sering kali membicarakan seseorang yang cukup terkenal di instagram waktu itu, dia lulusan SMAN 3 Bandung dan dia masuk ITB di jurusan Sekolah Bisnis Manajemen melalui jalur SNMPTN. Dari situ saya dan teman saya bercita-cita untuk menjadi mahasiswa disana dengan jurusan yang sama pula.

Finally, di kelas 12 saya mulai mengalami kejenuhan dalam belajar. Padahal seharusnya saya mulai belajar bener-bener itu disini. Alhasil nilai UN Saya pun kurang memuaskan, ditambah jauhnya materi-materi yang diberikan dengan soal-soal yang keluar. Saya juga cukup menyesali hal tersebut, karena tidak bisa memaksimalkan waktu untuk belajar. Pada masa ini juga saya mulai merubah keinginan saya untuk masuk perguruan tinggi negeri mana, karena dengan kemampuan saya yang kurang saya mulai pesimis untuk masuk ke ITB.

Saya memutuskan untuk memilih UPI dengan jurusan Akuntansi melalui jalur SNMPTN, namun ternyata saya ditolak. Selagi menunggu hasil SNMPTN dan UN saya mencoba mendaftarkan diri ke POLBAN melalui jalur PMDK dengan memilih program studi Akuntansi Manajemen Pemerintahan, melalui jalur ini saya juga ditolak. Namun perjuangan saya tidak sampai disitu saja, saya juga mencoba jalur SBMPTN ke UIN dengan memilih jurusan Administrasi Negara. 

Dengan latihan soal seadanya saya mencoba belajar dengan sungguh-sungguh, dan ternyata soal SBM tahun 2016 berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya. Alhasil saya pun ditolak kembali. Sedih rasanya, ingin marah tapi salah sendiri. Saya sempat merasa putus asa dan tidak memiliki semangat untuk kuliah lagi. Tapi sepupu saya menyarankan untuk mengikuti jalur tes SMB POLBAN. Tadinya saya tidak mau untuk mengikuti tes-tes seperti itu lagi, capek juga rasanya. Tetapi saya juga berpikir apa yang akan saya lakukan jika tidak kuliah, mau kerja pun saya tidak punya keahlian apa-apa.

Dengan tekad mencoba sekali lagi untuk yang terakhir kalinya. Saya mencoba untuk mendaftar SMB POLBAN, program studinya pun dipilihkan oleh kakak sepupu saya. Karena saya juga masih bingung untuk memilih program studi apa disana. Kaka sepupu saya menyarankan untuk memilih empat program studi Non-Rekayasa. Tapi, ternyata peraturannya hanya memperbolehkan untuk memilih dua prodi non-rekayasa dan dua prodi rekayasa. Dan saya terlanjur sudah membeli pin untuk empat program studi. 

Saya pun merasa sangat kesal, padahal saya sudah membaca peraturan tata tertibnya berulang-ulang, tetapi masih saja saya melakukan hal yang ceroboh. Karena sudah terlanjur akhirnya saya pun mengisi untuk prodi rekayasa dengan memilih prodi teknik konstruksi gedung dan teknik proses manufaktur, padahal saya buta sekali dengan pelajaran fisika dan kimia. Untuk prodi non-rekayasa saya memilih prodi keuangan syariah dan administrasi bisnis.


Karena sudah terlanjur tadi, saya pun menjalaninya dengan ikhlas dan belajar dengan benar melalui soal-soal SMB tahun lalu. Saya belajar dengan kondisi rumah ramai karena akan mempersiapkan pernikahan kaka sepupu saya, dan saya bisa belajar dengan tenang ketika satu minggu sebelum tes berlangsung. Saya sangat bersyukur karena soal-soal yang saya pelajari tidak berbeda jauh dengan soal yang keluar ketika saya tes. Hanya saja saya sudah pusing duluan ketika melihat soal-soal untuk tes prodi rekayasa. 

Saya cukup optimis pada saat itu, dan Alhamdulillah saya tidak ditolak lagi, saya diterima di program studi Keuangan Syariah walaupun sebenarnya saya tidak pernah kepikiran untuk memilih prodi tersebut.  Saat itu saya sangat senang sekali karena perjuangan saya tidak sia-sia. Dari situ saya sadar bahwa Allah tidak akan memberikan apa yang kita inginkan, namun Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan nanti. Maka dari itu, saya harus menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan-Nya kepada saya.


Assalamualaikum, hallo perkenalkan nama saya Muhammad Ramdani biasa dipanggil Ramdani. Kelahiran asli Bandung menetap di Bandung juga sampai...


Assalamualaikum, hallo perkenalkan nama saya Muhammad Ramdani biasa dipanggil Ramdani. Kelahiran asli Bandung menetap di Bandung juga sampai saat ini padahal niat pengen rantau. Rumah di Bandung tapi di kabupaten tepatnya di Cigondewah, hanya sekitar 2.5 km dari SMA Negeri 17 Bandung. Bicara soal cita-cita, dulu saya pengennya jadi pilot atau masinis, tapi nampaknya cita-cita menjadi pilot hanya angan-angan saja, bukan putus asa tetapi hanya saja hidup makin dewasa dan terjurus program studi yang telah ditentukan membuat saya mensyukuri apa yang saya jalani sekarang saja. 

Saya juga punya hobi fotografi. Sedikit info sekarang saya berkuliah di POLBAN yang sudah tidak asing lagi terdengar nama kampusnya di 17, bersyukur sekali berkuliah disini mengingat  puluhan ribu peserta yang ingin masuk POLBAN dan alhamdulillah saya bisa merebut satu bangku dan menjadi pemenang untuk diri saya sendiri. Langsung saja saya akan bercerita tentang perjalanan hidup di SMAN17 sampai bisa mengamankan bangku kuliah di POLBAN jurusan Administrasi Niaga program studi D3 Usaha Perjalanan Wisata.

Dimulai dari pertama masuk SMAN 17 sebenarnya bukan SMA yang saya inginkan tetapi karena kacaunya sistem pendidikan waktu itu mengantarkan saya untuk bersekolah disana, dan pada akhirnya saya mensyukuri itu. Di 17 pertama masuk saya langsung dikagetkan dengan masuknya saya di jurusan IPS, jurusan yang sudah diwanti-wanti jangan oleh orangtua karena orangtua sendiri dulu anak IPA, tapi saya terima itu karena hidup kita yang tentukan insyaallah ini jalannya meskipun orangtua tidak berkenan, mencoba pindah jurusan ternyata baru 1 minggu saja saya sudah jatuh hati kepada kelas saya yaitu IPS 1 yang diwalikelasi oleh bu Eli, akhirnya saya putuskan menetap karena saya suka IPS pelajaran santai juga yang saya suka dari IPS anak-anaknya pemberani dan nekad.

Naik kelas 2 saya menempati kelas pertama lagi yaitu IPS 1 yang diwalikelasi oleh bu Tati, prestasi terbaik saya adalah di kelas 2 yaitu di semester 1 saya ranking 11, meskipun bukan 10 haha tapi saya bersyukur karena untuk apa hidup terlalu pintar.


Cerita di Kelas 3

Singkat cerita naik ke kelas 3 bersama bu Lilis dan teman yang unik, aneh dan asik membuat saya enjoy dengan keseharian saya di sekolah, naik kelas 3 bukan menjadikan saya semakin rajin belajar tetapi malah makin suka main dan menjalani hobi saya yaitu memotret dengan uang pas-pas an saya motret sana sini, tetapi tetap tidak melupakan kewajiban dan profesi saya sebagai siswa. 

Alhamdulillah kenaikan nilai pun Saya dapatkan di semester 5. Dan omat jaga nilai persemester kalian jangan sampai ada yang turun apalagi ada yang remedial atau dibawah KKM, segeralah hubungi guru bersangkutan dari sekarang jika ada nilai menurun apalagi remedial. UN dijalani dengan penuh kejujuran dan dapat hasil sangat buruk tetapi apalah arti angka-angka itu yang penting saya jujur.

UN selesai saya langsung serius mau kemana saya kuliah, saya mengurus berkas-berkas untuk mendaftar POLBAN lewat PMDK reguler dan memilih jurusan AN (Administrasi Niaga) dan Program Studi Usaha Perjalan Wisata. Kenapa saya pilih prodi itu karena saya suka main haha, karena sebelumnya saya gagal di SNMPTN dan mencoba peruntungan di PMDK POLBAN saya tidak membidik SBMPTN karena saya orangnya pemalas saya malas belajar lagi, saya ragu sekali kala itu dan ibu saya menyarankan untuk mendaftar PTS jaga-jaga antisipasi jika PMDK POLBAN tidak masuk, seleksi PTS UNJANI saya jalani dan masuk alhamdulillah tetapi bukan itu target saya. 

Lama menanti akhirnya setelah cek website pmdkpolban alhamdulillah nama saya tercantum disana tanpa harus susah payah test tertulis dan pagi itu bahagia dan hangat sekali setelah mendengar kabar itu ibu saya memeluk saya terasa hangat se isi rumah dan ibu berbisik “jangan sia-siakan kesempatan ini, sekarang kau maju menuju dewasa”.

Perjuangan? Sepertinya saya tidak berjuang haha tetapi saya selalu yakin akan do’a saya dan do’a orangtua saya karena bisa dibilang saya adalah orang yang sangat pemalas, malas boleh bodoh jangan. 

Pesan saya untuk siapa pun yang akan masuk ke jenjang perguruan tinggi atau kuliah. Kalian sebut percayalah pada dirimu kawan, malas itu manusawi tetapi ada saatnya dan jangan terlalu, tapi camkan kembali jangan sekali-kali malas ibadah. Sekian dari saya mungkin sukses untuk kalian adik-adik percayalah bahwa sukses tidak ditentukan berdasarkan dimana kalian bersekolah.

Wassalam, Yoo salam budak IPS. :)(

Assalamualaikum Kenalin nama Aku Mila Cahyani dari Teknologi Pasca Panen ITB 2016. Aku mau bagi cerita nih gimana aku bisa kuliah di ITB. S...

Assalamualaikum

Kenalin nama Aku Mila Cahyani dari Teknologi Pasca Panen ITB 2016. Aku mau bagi cerita nih gimana aku bisa kuliah di ITB. Simak yaaaa (bukan simak UI) hehe

Siapa sih yang gamau kuliah di PTN favorit? Sebagian besar siswa-siswi SMA pasti pengen. Nah, jadi dulu tuh dari kelas 10 kan guru-guru selalu ngingetin tentang nilai rapor yang harus stabil kalau bisa selalu naik. Tapi aku selalu mikir "elah apaan sih santai aja kali nilai rapor mah". Dulu tuh belum kepikiran mau kuliah dimana, jurusan apa dan lain-lainnya. Kaya ngerasa 'yaudahlah gimana nanti weh kuliah mah, pikirinnya pas udah kelas 12'. 

Tapi pas akhir-akhir kelas 10 tuh wali kelas aku Bu Atik, cerita gitu tentang seorang teteh yang keterima di ITB lewat jalur undangan atau bisa kita kenal SNMPTN. Seorang teteh yang aku gatau siapa namanya :( dan baru kenal pas liburan semester 1 kemaren pas liburan kuliah dan namanya adalah Teh Leysi jurusan Oseanografi ITB 2014. 

Dari situ aku mulai kagum gitu dan ngebanyangin gimana rasanya bisa kaya gitu, keterima di PTN favorit tanpa harus susah-susah buat tes masuk. Setelah itu aku nyoba buat lebih peduli sama nilai karena pengen kaya Teh Leysi yang ternyata ga gampang :(((. Sampai akhirnya pas bagi rapor aku kecewa banget banget banget karena nilainya jauh dari harapan aku. Mulai down banget disitu. Mulai mikir aku pasti ga akan bisa keterima jalur undangan dengan nilai yang kaya gini. 

Setelah nangis selama 2 hari di rumah, aku mulai mikir kalo semua itu tuh emang sepenuhnya salah aku. Aku yang ga jujur waktu ulangan alias nyontek (tolong banget ini jangan ditiru). Dan di kelas 11 nanti rencananya aku mau 'tobat' atau bisa dibilang ga akan nyontek lagi. Tapi percaya deh itu semua cuma WACANA. Karena pada kenyataannya aku masih nyontek :(. Di kelas 11 ini aku mulai kepikiran buat ngambil jurusan Arsitektur karena aku suka gambar dan matematika. Mulai deh aku cari-cari PTN yang ada jurusan Arsitektur dan pilihan aku jatuh ke ITB sama UI. 

Tapi lama kelamaan pilihan aku jadi berat ke ITB. Aku coba belajar yang serius, mulai ngurangin nyontek walau cuma bisa ga nyontek di ulangan matematika. Kenapa cuma di matematika? Karena aku suka pelajaran matematika, dan aku ngerasa kalo aku nyontek dipelajaran matematika aku kaya bohongin diri aku sendiri. Rasanya tuh sama kaya aku ngehianatin diri aku sendiri, dimana harusnya  aku tuh bisa dapet nilai bagus tanpa perlu nyontek. 

Nah nilai rapor di semester 3 aman lah. Pas semester 4 hancur karena nilai kimia yang mepet KKM :((((. Mulai down lagi kemudian nangis lagi pas liburan :(. Karena pada dasarnya aku ga suka kimia banget banget bahkan sampe sekarang. Jadi aku berusaha ikhlas sama nilai rapor yang begitu adanya.

Kelas yang Penuh dengan Drama dan Air Mata

Kelas 12 nih yang penuh dengan drama dan air mata (eaaa). Di kelas 12 ini aku mulai menata diri lagi. Bener-bener mulai tobat dari tindakan berdosa yang namanya nyontek. Dan Alhamdulillah aksi tobat ini bisa terealisasikan di kelas 12. Mulai bener-bener ngejar nilai buat modal SNMPTN. Dan jeng jeng-jeng nilai rapor semester 5 pun tidak mengecewakan. Mulai agak tenang karena ga ngelakuin kesalahan yang sama kata 4 semester lalu. Masalah selanjutnya adalah mulai ragu buat milih ITB. Soalnya angkatan sebelumnya ada 2 orang yang keterima di ITB lewat SNMPTN yaitu Teh Putul Teknologi Pasca Panen 2015 sama Kang Habib Teknik Geologi 2015. Dan mereka emang kereeennn panutan bangettt :((. 

Ga yakin bisa kaya mereka. Ga yakin bisa keterima di ITB :(((. Sampe akhirnya waktu pendaftaran SNMPTN dimulai dan masih belum bisa nentuin mau milih PTN mana. Dengan keadaan Ibu lagi sakit, terus Ibu tinggal di kampung halamannya. Bener-bener ga punya semangat gitu buat pergi kesekolah aja. Hati ga pernah tenang karena takut Ibu kenapa-kenapa. Ga bisa fokus belajar. Bingung mau cerita ke siapa tentang bingung milih PTN. Sampe akhirnya aku mutusin sendiri buat milih matematika UNPAD.

Baca Juga: Cerita Rahayu Bisa Lolos Tembus S1 Perikanan di Universitas Padjajaran

Padahal awalnya pengen milih FMIPA ITB tapi karena terlalu banyak ketakutan tentang ini itu jadi ga jadi milih. Terus aku cerita ke Ibu kalo aku udah ngisi pilihan pertama matematika UNPAD tinggal verifikasi. Terus Ibu malah marah gara-gara gamau aku milih itu. Ibu ga mau jawab telpon sampe beberapa hari. Terus aku cerita ke Ayah, mungkin Ayah cerita lagi ke Ibu sampe Ibu telpon aku terus bilang kalau beliau gamau aku milih UNPAD karena Jatinangor jauh dari rumah. 

Terus Ibu juga bilang kalau Ibu tau aku tuh sebenernya gamau milih UNPAD, dan Ibu tau aku tuh pengen banget bisa kuliah di ITB. Akhirnya Ibu yakinin aku buat milih ITB terus Ibu bilang 'kalo kamu yakin usaha kamu udah maksimal kenapa harus takut' dan aku mulai yakin kalo SNMPTN ini kesempatan emas yang ga boleh aku sia-siain.

Aku pilih FMIPA ITB dipilihan pertama dan diem2 milih SITH-R ITB dipilihan kedua karena SITH-R di tahun kedua kuliahnya di Jaditangor. Dan dan dannnnn pas pengumuman SNMPTN yang barengan sama keluarnya hasil UN aku paginya ke sekolah buat liat hasil UN. DAN JELEK BANGETTTTT :((((. Langsung down, langsung mulai ilang harapan bisa kuliah di ITB, langsung yakin ga akan keterima SNMPTN. Terus aku pulang, aku sama Yola (temen sebangku dari kelas 10) mau daftar SBMPTN siang itu juga. Waktu itu tanggal 9 Mei jam 1 pengumuman SNMPTN. Pas udah jam 1 akhirnya Yola buka duluan dan ga keterima :(. 

Terus giliran aku, pas mencet enter webnya down. Terus coba lagi kedua kali. DAN DAN DANNNNNNN ADA TULISAN "SELAMAT, ANDA DINYATAKAN LULUS SNMPTN 2016" DISITU LANGSUNG DIEMMMMMMM GATAU HARUS GIMANA NGEEKSPRESIINNYA. Antara seneng banget, sedih, terharu juga. Walau agak kecewa ga keterima dipilihan pertama. Tapi aku bersyukur bangettttttt aku bisa ngerasain kaya Teh Leysi, Teh Putri, Kang Habib :"))))))))).

Jadi pesan moral dari cerita ini adalah:
1. Berenti nyontek gengsss. Mulailah percaya peda diri sendiri kalo kalian bisa tanpa nyontek. Karena jujur selama aku kuliah di ITB aku belum pernah nyontek.
2. Percaya deh kalo usaha itu ga pernah mengkhianati hasil.

Aku tunggu cerita kalian sendiriiiiiii... Jujur aja aku nulis cerita ini deg-degan kaya dibawa ke momen itu lagi :(((

Udah ah cukup. Wasalamualaikum wr wb



Assalamualaikum Wr. Wb, perkenalkan kawan - kawan saya Rivaldo Dwi Martyanto alumni SMAN 17 Bandung Angkatan 2016 sekarang saya berkuliah di...



Assalamualaikum Wr. Wb, perkenalkan kawan - kawan saya Rivaldo Dwi Martyanto alumni SMAN 17 Bandung Angkatan 2016 sekarang saya berkuliah di Universitas Pendidikan Indonesia dengan mengambil Prodi S-1 Manajemen saya lahir di Bandung pada tahun 1999. Menurut saya “keluarga adalah motivasi terbesar yang selalu menyertai dalam suka maupun duka”, Saya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Seorang yang tak pernah terlihat demi tercapainya cita – cita anaknya adalah ayah dan seorang ibu yang selalu mendoakan anaknya dimanapun berada. Yaaa.. itu lah sebuah kalimat yang sekiranya pantas saya berikan untuk keduanya.

 
Saya bersyukur atas apa yang telah Allah SWT berikan kepada saya, Karena-nya sekarang saya bisa masuk universitas negeri yang banyak orang tahu butuh kerja keras untuk diterima di Universitas Pendidikan Indonesia ini.  Singkat cerita perjuangan saya untuk bisa masuk ke PTN di mulai dari seleksi SNMPTN atau biasa di kenal jalur undangan, kelebihan dari jalur masuk PTN ini adalah kita tidak perlu melakukan test tertulis yang menjadi nilai ukur untuk masuk ptn ini adalah nilai rapot siswa dari semester satu sampai dengan lima di jalur ini pilihan pertama  saya memilih universitas padjajaran jurusan manajemen kedua jurusan akutansi dan yang ketiga saya memilih Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Manajemen namun nasib berkata lain dari ketiga pilihan saya di jalur SNMPTN ini tidak ada satu pun yang menerima saya sempat kecewa namun saya tidak berhenti disitu saja.


Sebelum mengikuti salah satu jalur masuk PTN lain yakni SBMPTN saya juga sempat mengikuti ujian mandiri di Universitas Telkom dan disana saya di terima di Jurusan Akuntansi saya jadikan ini sebagai prioritas kedua karena Hasil SBMPTN belum diumumkan, sebelum mengikuti tes SBMPTN saya banyak melakukan latihan latihan soal dan belajar bersama teman teman seperjuangan karena lolos ptn lewat jalur SBMPTN bagaikan lolos dari lubang jarum karena tes ini dilakukan oleh seluruh siswa baru maupun yang tahun lalu sehingga persaingan semakin ketas selain itu juga dalam tes ini setiap ada soal yang salah maka akan diberikan nilai minus sehingga kita harus membuat strategi agar nilai kita nanti memenuhi syarat masuk ptn yang kita pilih dijalur ini saya memilih tiga jurusan yang sama yakni manajemen dari tiga universitas yang berbeda yakni Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Padjajaran dan Universitas Islam Gunung Djati, dan Alhamdulillah saya masuk ke pilhan pertama yakni Universitas Pendidikan Indonesia Prodi Manajemen.


Ya sekian saja secerca pengalaman perjuangan saya dalam merajut asa merubah masa depan menjadi cahaya terang semoga dengan pengalaman saya untuk masuk ptn dan akhirnya masuk di Universitas Pendidikan Indonesia Prodi Manajemen dapat menjadi motivasi bagi adik adik untuk masuk ke PTN, semoga kabar baik yang saya terima ketika lolos Jalur SBMPTN dapat dirasakan oleh adik-adik juga.

Jangan lah kalian sia - siakan kesempatan yang Allah SWT berikan, selalu bersyukur atas segala nikmatnya, pantang menyerah dan terus berusaha adalah kunci kesuksesan dan doa dari kedua orang tua lah yang mempermudah mimpi mimpi dan cita cita yangkita inginkan.


"Salah jurusan belum tentu salah masa depan" Alo kenalin namaku Dinda Robayanti. Aku adalah mahasiswi Universitas Pendidikan Indo...




"Salah jurusan belum tentu salah masa depan"

Alo kenalin namaku Dinda Robayanti. Aku adalah mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia atau biasa disingkat UPI dan tentu juga Alumni dari SMA Negeri 17 Bandung. Aku terlahir dari keluarga yang bisa dibilang serba pas-pasan. Walaupun begitu, aku punya mimpi yang gapas-pasan hehe. Dulu sih aku pen masuk SF ITB, atau engga astronomi ITB. Tapi yaudahlah~

Sebelum bahas itu, kita cerita tentang masa SMA aku yu

Kehidupan SMA aku biasa aja sih kek yang lainnya he, diwarnai dengan peristiwa penting yg ngebuat aku kek gini sekarang. Waktu kelas 10, masa SMA aku biasa aja, bisa dibilang bosen malah hehe. Waktu itu aku terlalu ambisius dalam belajar jadi aja. Dulu sekolah tuh cuma sekolah-pulang sekolah-pulang, HA bosen emang

Waktu kelas 11, aku masuk di 11 Ipa 6. Kelas yang bikin aku gajadi pindah dari 17 hehe. Pokonya masa terindah SMA ada dikelas 11 sih hehe mulai dari ngalamin banyak hal bareng mereka, belajar banyak hal juga, dimarahin guru bareng, sama galupa main tiap sabtu sehabis pulang les Pa Rahmat ya hehe. 

Pada kelas 11 juga aku ditawarin buat ikut OSN kimia, mtk, fisika tapi waktunya kan barengan jadi cuma milih satu, aku milih kimia dan cuma lolos diwilayah doang, pas di kota nya galolos, yaudah sih ya

Waktu kelas 12, aku terlalu fokus sama latihan soal UN dan jarang banget belajar soal-soal sbmptn, padahal hasil UNnya juga biasa sih gabagus He. Waktu SNMPTN aku milih Farmasi UNPAD, Pend. Kimia UPI, pend. IPA UPI. Tapi GAGAL, kecewa sih tapi ya gimana lagi, gaharus berenti disitu aja kan.

Seudah SNMPTN waktu itu ada PMDK POLBAN, aku juga nyobain daftar dan itu juga daftarnya di akhir-akhir batas waktu pendaftaran juga. Waktu itu aku cuma punya waktu 1 hari buat nyiapin berkas dan besoknya harus udah dikumpulin di POLBAN nya. Dan pengumumannya aku GAGAL lagi.

Aku coba lagi SBMPTN, waktu itu aku daftar pilihan pertama Pend. Fisika UPI, Pend. Teknik Elekto UPI, dan PGPAUD Bumsil. Karena belajarnya gapernah serius, sering males buat belajar juga sih hehe jadinya cuma lolos di pilihan ke tiga. Waktu pengumuman aku lolos rasanya biasa aja sih. Ya itu waktu jamannya aku kufur nikmat bgt lah, jan ditiru ya:(

Lalu seteleh itu ada SMB POLBAN. Awalnya sih aku gakan ikutan tapi pen juga ikutan sampe akhirnya kaka aku nyuruh buat ikutan tapi aku belum daftar pada saat itu. Dihari itu juga sahabat aku dateng bawa soal POLBAN taun-taun sebelumnya. Terus nyuruh aku ngerjain semua soal dia. Sebelkan dateng-dateng Jol nyuruh ngerjain banyak soal:( tapi gaaku kerjain semua juga sih wkwk. Ohiya waktu itu juga aku ikut belajar bareng di SMAN 18 BDG. Dan tau ga pas daftar SMB aku milih pilihan pertama D4 Teknik Kimia Industri Bersih dan pilihan kedua D4 konservasi energi, TAPI pas aku ngeprint kartu pesertanya, pilihannya jadi berubah pilihan pertamanya D4 teknik kimia industri bersih dan pilihan keduanya D3 konversi energi. Dan waktu itu juga d3 konversi energi banyak banget yang daftarnya. Tapi pas pengumuman alhamdulillah aku lolos di D3 konversi energi.

Dengan lolosnya aku di POLBAN seneng sih seneng banget tapi aku juga harus milih antara UPI atau POLBAN. Banyak orang yg nyaranin "udah kamu masuk polban aja, ntar gampang kerja terus gajinya bagus", ya emang sih gasalah mereka ngomong kek gitu. Tapi banyak hal juga yg harus aku pertimbangin, sampe akhirnya aku sholat istikhoroh selama 4 hari berturut-turut dan diberi mimpi bahwa upi adalah yang terbaik buat aku. Lalu aku akhirnya milih UPI.

Awalnya sih sedih banget, gajadi kuliah di POLBAN. ngelepasin apa yang jadi cita-cita kita pasti kan ya gagampang, susah banget. Sampe udah 3 bulan aku mulai kuliah di UPI pun masih ada rasa menyesal kenapa gamilih polban.

Sampe akhirnya waktu itu aku ikut SOS Tutoria PAI UPI, ada salah satu ustadz yang berceramah dan kata-kata beliau lah yang menjadi salah satu obat untuk aku supaya bisa ngelepasin pikiran penyesalan ttg polban tadi. Pa ustad tersebut berkata "jika awal tujuan kalian kuliah adalah hanya untuk ntar udah lulus terus ngarep dapet kerja yang bagus dan gaji yang bagus, ketahuilah itu mirip dengan pandangan yahudi mengenai pola pendidikannya. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut"

Astagfirullah, waktu itu aku sadar bahwa pada saat aku daftar dan ingin masuk polban itu yang jadi salah satu awalan niat aku dan ternyata itu salah.
Dan aku mikir mungkin Allah nunjukin upi yang terbaik buat aku salah satunya gegara itu, mungkin.

Ohiya buat siapapun yang baca cerita ini, kalo mau berbuat sesuatu yu lurusin dulu niat awalnya. Kalian boleh atau harus malah jadi bahan pertimbangan milih jurusan berdasarkan pada prospek kerja jurusan tersebut tapi jan terpaku kepada hal itu saja yaa. Ada faktor lain juga yg harus menjadi bahan pertimbangan, dan yang terpenting jan lupa konsultasiin sama Allah. Dan semoga siapapun kalian gaada yang salah milih jurusan. Namun itu sudah terjadi, ingatlah salah jurusan belum tentu salah masa depan.

Dan yang terakhir ucapan terimakasih untuk Allah Swt, orangtua, keluarga, Pa Kardiana, Reffitp, serta pihak-pihak lainnya yang telah memberikan kontribusi dalam hidup saya.

P.s: saya menulis kisah diatas bukan berniat untuk riya atau ujub.







“Jangan pikirkan kegagalan kemarin, hari ini sudah lain, sukses pasti diraih selama semangat masih menyengat” - Zihan Hai guys! Sebelum berc...



“Jangan pikirkan kegagalan kemarin, hari ini sudah lain, sukses pasti diraih selama semangat masih menyengat” - Zihan

Hai guys! Sebelum bercerita, alangkah lebih baiknya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Zihan Berliana Ram Ghani biasa dipanggil Zihan dan saya lulusan SMAN 17 tahun 2017. Di sini saya akan sedikit bercerita bagaimana saya bisa lolos SBMPTN 2017 dan masuk di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Padjadjaran. Penasaran dengan cerinya?

Jadi Murid Pindahan

Oke, pada awalnya saya adalah murid pindahan. Dulu saya bersekolah di SMAN 1 Soreang selama 6 bulan. Jadi, ketika pengumuman nem SMP saya terima, nem saya cukup memuaskan dan diatas 30an. Nah berhubung saya rumahnya di Kabupaten Bandung dan pemilihan SMA kota Bandung itu berdasarkan sistem rayon jadi saya hanya bisa memilih 1 pilihan saja. 

Pada awalnya ayah saya menyarankan untuk masuk ke SMAN 17 Bandung tetapi saya tidak mau karena dulu saya cukup “pede” masuk sekolah lain. Lalu, saya memilih SMAN 7 Bandung namun saya gagal karena kalah dengan nem kabupaten yang lainnya padahal nem untuk orang kota Bandungnya cukup rendah. Dari situ saya sudah mengalami kegagalan dan saya sangat kecewa. Orang tua saya sangat marah kepada saya. Iya, saya mengecewakan mereka. Lalu saya bersekolah di SMAN 1 Soreang selama 6 bulan Alhamdulillah masuk kelas unggulan tetapi setelah itu saya langsung pindah ke SMAN 17 Bandung dan masuk kelas X MIPA 4.

Bisa dibilang saya murid yang biasa aja, 5 besar pun tidak pernah paling paling hanya 10 besar karena memang saya agak santai dan rada “bodo amat” dengan nilai saat di SMA dan remed adalah hal yang biasa. Saat di SMA saya gak terlalu mematok nilai saya tuh harus naik terus apalagi diatas 75. Jujur, saat dikelas saya tuh tipe orang yang agak jarang buat merhatiin guru dan jarang juga bertanya saat guru mempersilahkan muridnya untuk bertanya. 

Kadang saya main handphone, jajan, bolos cuma karena mager bahkan pernah mabal saat jam pelajaran tiba. Pada saat kelas X, XI dan XII nilai pelajaran bahasa dan ilmu pengetahuan sosial saya lebih besar seperti sejarah, geografi (lintas minat) dan pkn daripada pelajaran IPA nya karena dulu pada saat masuk SMA ibu saya lah yang meminta saya untuk masuk IPA.

Kalau kata orang jaman dulu tuh “kalo masuk IPA berarti anaknya pinter-pinter” tapi sekarang jaman udah beda. 

IPA IPS menurut saya gak ada bedanya, nakal apa enggak tuh gimana anaknya yang bedain cuma beda belajarnya aja. Pada saat kelas XI tiba, saya ikut bimbel. Niatnya ya buat nambahin ilmu sama ngeyakinin niat mau masuk Teknik Geologi. Tapi nyatanya 0, pada saat les saya main main terus kadang ga masuk les. Saya les setahun penuh tapi kayaknya ga ada hasilnya. Ya ini juga gara-gara saya yang gak serius sih. Kelas XII saya les lagi sampe sering try out SBMPTN SAINTEK tapi ya lagi lagi saya ngerasa ga sreg sama pelajaran IPA. 


Mau dipaksain juga susah. 6 bulan les sampe desember lalu saya keluar. Sebelumnya awal kelas 12 ada promosi Quipper gitu ke kelas saya dan saya tertarik buat coba karena kebetulan ada wifi dirumah jadi gampang belajar lewat videonya. Jadi pada saat keluar les bulan Desember disitu saya mulai belajar sendiri tentang SBMPTN SOSHUM dan merelakan keinginan saya masuk Teknik Geologi. Ya sedikit demi sedikit saya cicil buat belajar materinya tapi gak serius serius amat paling cuma setengah jam atau sejam itupun ga setiap hari. Sampai-sampai saya beli buku yang segede ‘gaban’ buku SBMPTN SOSHUM tebal sekali di Gramedia demi belajar. Buku SAINTEK saya pun saya kasih kepada Wardani teman sekelas saya.

Pengumuman para siswa siswi yang bisa ikut SNMPTN pun tiba, disini saya tidak bisa ikut SNMPTN. Dan saya pun biasa saja, saya sempat berpikir ya mungkin ini balasan karena saya terlalu santai dan saya juga murid pindahan. Sebelum UN saya ikut ujian tulis Universitas Telkom dan saya berhasil masuk S1 Sistem Informasi. Kebetulan orang tua saya tipe orang yang santai yang penting saya kuliah. Tetapi meskipun begitu saya tidak mau menyerah, saya mau coba ke PTN untuk meringankan beban orangtua saya, karena jika masuk PTS biaya masuk dan per-semesternya sangat mahal.


Belajar dan Menyiapkan SBMPTN


Disaat yang lain sibuk belajar untuk UN saya malah belajar SBMPTN karena saya menonton berita di TV bahwa nilai UN tidak berpengaruh terhadap kelulusan. Dan saya pun memilih UN biologi yang saya pikir tidak perlu banyak waktu untuk menghitung karena kebetulan angkatan saya UN hanya 4 pelajaran yaitu bahasa Indonesia, bahasa inggris, matematika dan 1 mata pelajaran pilihan dari fisika, kimia dan biologi.  Jadi saya pilih biologi agar waktu belajar untuk SBMPTN makin banyak.

Setelah UN saya benar benar fokus untuk mengejar masuk PTN.  Setiap siang saya belajar dan setiap hari bangun jam 1 malam untuk belajar. Mungkin disini saya sudah sadar bahwa masa depan ada ditangan saya dan perjuangan sayalah yang menentukan segalanya. Tidak cukup hanya belajar, saya sampai bertanya kepada teman saya bagaimana caranya untuk shalat tahajud, hajat, witir dan taubat. Karena selain usaha, doa-doa kita kepada-Nya lah yang menentukan keberhasilan kita.

Setiap hari saya latihan soal buku SBMPTN, latihan di Quipper dan kadang belajar bersama teman saya. Sampai hari SBMPTN pun tiba, di sini saya sangat berharap pada diri saya bahwa saya bisa lulus dengan nilai yang baik dan bisa masuk PTN. Setelah selesai SBMPTN banyak teman saya yang saling bertanya “kamu di isi berapa?” “kamu yakin ga?” “bisa masuk gak yah” tapi saya tidak menjawabnya karena takut terlalu percaya diri jadi saya lebih baik jawab “Tidak tahu”. 

Saat menunggu pengumuman SBMPTN jujur saya agak santai karena sudah diterima di TELKOM tetapi orang tua saya selalu berkata “teh semoga masuk negeri ya, biar gak mahal bayarnya” disini saya ingin sekali masuk negeri agar bisa meringankan beban mereka.

Hari pengumuman SBMPTN pun tiba, kebetulan orang tua saya sedang libur bekerja jadi semuanya komplit ada dirumah. Saya makin degdegan karena mereka juga akan lihat langsung hasilnya bersama dengan saya. Jam 2 siang pun tiba, disitu saya sangat degdegan sekali. Sebelum saya membuka pengumuman SBMPTN pun saya malah makan, mandi sama shalat dulu sampai-sampai jam 3 siang saya melihat grup-grup yang ada di line saya ada yang diterima dan ada juga yang tidak. Saya mulai membuka laman SBMPTN bersama ayah dan ibu saya, dan ketika login… JENG JENG.. 

SELAMAT ANDA DINYATAKAN LULUS SELEKSI SBMPTN 2017 DI SASTRA INDONESIA – UNIVERSITAS PADJADJARAN. 

Sontak saya dan ibu saya menangis sangat sangat bahagia. Dan disitu juga saya melihat ayah saya meneteskan air mata karena sangat bahagia anaknya ini yang bisa dibilang biasa saja bisa masuk perguruan tinggi negeri. Alhamdulillah Ya Allah. Saya bisa membuktikan kepada orang tua saya meskipun saya gagal saat memasuki SMA namun hasil akhirnya saya bisa berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri dan meringankan beban kedua orang tua saya.

So, guys. Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan berubah untuk menjadi lebih baik. Karena jika kita bersungguh-sungguh dan semangat. Hasil yang didapat pun pasti setimpal dengan usaha yang kita lakukan. Terimakasih untuk kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca pengalaman saya ini. Tetap semangat ya!


----


Catatan Editor:

Buat adik - adik yang pengen diskusi sama Teh Zihan tentang Unpad, Sastra Indonesia atau juga tips seputar persiapan SBMPTN kalian bisa juga bertanya langsung di kolom komen atau juga bisa melalui instagramnya di @zihanbr. Semoga kita tetep semangat dalam berusaha meraih cita - cita :))
Aaamiin