Sedikit Pengalaman Saat Mahasiswa Baru Di Teknik Elektro UGM Lintang dan teman-temannya ketika PPSMB. Sebelumnya saya ingin memperkenalkan d...

Lintang Erlangga - S1 Teknik Elektro, Universitas Gadjah Mada

Sedikit Pengalaman Saat Mahasiswa Baru Di Teknik Elektro UGM

Lintang dan teman-temannya di UGM saat masa orientasi
Lintang dan teman-temannya ketika PPSMB.


Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu nama saya Lintang biasa dipanggil “Tang” asal kota dari Bandung.

Saat ini saya sedang berkuliah di salah satu universitas di Yogyakarta yaitu Universitas Gadjah Mada jurusan Teknik Elektro. Dan kali ini saya bakal berbagi pengalaman saya saat bener-bener lagi maba banget.

Jika kita sebagai mahasiswa tingkat satu mendengar kalimat "kakak tingkat" rasanya sangat menegangkan dan penuh dengan senioritas, namun di sisi lain kakak tingkat sangat lah membantu di dalam kehidupan perkuliahan seperti meminjam buku hingga link untuk mencari lowongan pekerjaan.

Karena itu lah kita perlu mengenal lebih jauh dengan kakak tingkat kita sebagai mahasiswa tingkat pertama yang mana sangat membutuhkan bantuan mereka, karena merekalah yang lebih berpengalaman dalam dunia perkuliahan.

Dan kali ini saya akan menceritakan pengalam saya ketika mahasiswa baru, pertama saya cerita dulu saat berkenalan dengan kakak tingkat saya di DTETI (Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi) UGM.

Kenalan Dengan Senior


Kenalan dengan kakak tingkat itu perlu hati-hati dan juga fokus karena salah dikit kata atau tindakan yang kurang sopan dapat dengan mudah kakak tingkat tersebut menilai kita dengan pandangan yang kurang baik.

Pertama Banget!


Pertama kali saya berkenalan dengan kakak tingkat, saya berkenalan dengan seseorang yang sedang duduk di depan ruang E7 yang sedang menggunakan laptopnya, beliau merupakan mahasiswa prodi Teknik Elektro angkatan 2014 yang berasal dari Jawa Tengah tepatnya dari Kota Cilacap.

Setelah sepertinya tidak ada selang beberapa menit saya langsung mengenalkan diri saya dengan kakak tingkat di sebelahnya beliau juga mahasiswa prodi Teknik Elektro angkatan 2014 yang berasal dari Jakarta.

Lama sudah mencari-cari kakak tingkat, lalu saya bertemu dengan seorang mahasiswa perempuan yang berasal dari Jambi dia sempat kaget karena saya tau salah satu tempat di Jambi, ya memang kota Jambi memang jarang sekali orang mengetahui tempat-tempatnya.

Lalu saya ceritakan sedikit mengapa saya. Lantai 3 berlanjut ke lantai 2 dan ke lantai 1 ini merupakan kejadian yang sangat memalukan, mengapa?

Karena setelah lama saya berkenalan beliau merupakan mahasiswa pascasarjana dan anehnya beliau seperti sudah mengetahui bahwa yang perlu berkenalan dengan mahasiswa undergraduate.

Masuk Ke Laboratorium Tegangan Tinggi


Kemudian sekitar jam 11-an saya dan juga rekan-rekannya memasuki ruang MAGATRIKA (Mahasiswa Ketenagalistrikan).

Disana terdapat dua kakak tingkat dengan senang hati mempersilahkan kami memasuki ruang MAGATRIKA disana kami memperkenalkan diri satu per satu setelah itu barulah para kakak tingkat yang memperkenalkan diri.

Awalnya saya dan rekan-rekanya ingin istirahat sejenak namun salah satu dari rekan kami mengusulkan untuk ke lantai 4 yaitu tempatnya anak anak EEIC (Electrical Engineering Innovation Center).

Di tempat tersebut saya tidak hanya dapat kenalan kakak tingkat namun saya juga dapat mendapatkan informasi, berbagi pengalaman dalam dunia perkuliahan ataupun di luar dan sebagainya.

Hal-hal ini akan menjadi kenangan pada saat masa-masa awal kuliah, sebelum saya terjun kedalam proses pembelajaran lebih lanjut, mengingat matematika dan fisika di perguruan tinggi itu cukup menyeramkan.

Kenalan Dengan Teman Seangkatan


Tak kenal maka tak sayang, kalimat tersebut sudah sering kali terdengar di masyarakat luas.

Maksud dari kalimat tersebut merupakan bagaiamana kita bisa mengetahui sifat seseorang jika kita tidak mengenal seseorag tersebut lebih jauh.

Oleh karena itu, kali ini saya akan berbagi pengalaman saya dengan cara menceritakan pengalaman saya ketika berkenalan dengan teman-teman seangkatanku.

Perbedaan Lingkungan Menjadikan Saya Canggung


Ketika pertama kali berkenalan dengan teman angkatan memang sedikit canggung, mengapa demikian?

Karena saat itu saya masih terbiasa dengan bahasa Sunda, ya jadi saya ini sering banget ngeluarin kata-kata seperti "teh" saat berbicara.

Padahal kebanyakan teman-teman saya itu kebanyakan berasal dari provinsi Jawa Tengah, yang mana mayoritas bahasanya menggunakan bahasa Jawa.

Bersemangat Belajar Bahasa Daerah Lokal


Saya yang sering banget ngeluarin kata-kata dalam bahasa Sunda kerap membuat teman-teman saya menjadi bingung untuk menjawabnya.

Tidak hanya itu, saya pun merasa kesulitan mendapat informasi dari teman sebab ketika teman-teman saya yang sedang ngobrol terkadang seringkali menggunakan bahasa Jawa, dan sampai saat ini saya masih belum bisa mengerti bahasa Jawa.

Tapi hal itu tidak membuat saya pasrah, dan saya latihan dengan cara yang beda, saya mendengarkan lagu NDX AKA setiap hari untuk melatih kemampuan bahasa saya, dan pada akhirnya malah saya suka dengan band koplo tersebut.

Perlunya Waktu Untuk Berkenalan


Sebagaiamana umumnya seperti orang-orang yang sedang berkenalan, pasti yang ditanya setelah nama yaitu asal kota, tempat tinggal, tapi ada yang berbeda.

Terkadang juga saya ataupun teman-teman saya kerapkali menanyakan mengenai jalur masuk ke UGM yang ditempuh, selain itu bertanya juga tentang pilihan-pilihan kampus yang dituju saat seleks masuk.

Karena berkenalan dengan sendirinya itu memerlukan waktu yang cukup lama oleh karena itu ketua angkatan kami mengusulkan untuk berkumpul di samping lapangan satu bumi (lapangan basket di Fakultas Teknik).

Memang awalnya sangat sulit sekali mengatur 200 orang lebih untuk disesuaikan, tapi selang beberapa waktu semuanya telah membentuk suatu lingkaran, lalu para mahasiswa mulai dari ujung mulai bergerak mengelilingi lingkaran dan saling berkenalanlah disitu.

Dengan adanya ini saya mulai mengenal para mahasiswa TETI 2016 lebih banyak, meskipun ada beberapa yang tidak sempat untuk hadir.

Harapannya koneksi yang saya bangun bisa membantu saya dalam mengarungi dunia perkuliahan di waktu yang akan datang.

Wawacara Dosen Pembimbing Akademik (DPA)


Igi Ardiyanto atau kami bisa memanggil beliau dengan panggilan "Pak Igi". Beliau merupakan salah satu lulusan terbaik dari prodi Teknik Elektro sekitar 9 tahun yang lalu.

Sedangkan beliau memulai profesinya sebagai seorang dosen pengajar sekitar 2 (dua) tahun setelah beliau lulus dari sarjana.

Beliau Sebelumnya Tidak Tertarik Dengan Elektro


Sebelum terjun di dalam bidang elektronika, salah satu dosen yang mengampu mata kuliah PLKI (Penulisan Laporan Karya Ilmiah) ini sebelumnya lebih tertarik di dalam bidang kedokteran.

Akan tetapi, di dalam hati nurani beliau terdapat sebuah "loncatan listrik elektronika" yang membuat beliau menjadi seorang teknisi elektronika.

Dan tidak hanya itu, pengalaman masa kecil beliau yang selalu membayang-bayangkan sebuah rancangan elektronika membuat beliau betah dalam belajar di Teknik Elektro.

Sebelum Menjadi Dosen


Dosen yang membimbing 18 mahasiswa baru angkatan 2016, memiliki banyak sekali lika-liku kehidupan sebelum menjadi seorang dosen pengajar.

Sebelum beliau mengabdi kepada Universitas Gadjah Mada, beliau masih sempat mencicipi dunia kerja sebagai seorang sarjana teknik.

Hallyburton merupakan salah satu dari berbagai jenis perusahaan minyak asing yang beliau pilih. Namun hanya selang beberapa bulan saja beliau bertahan disana.

Salah satu alasan bagi beliau untuk meninggalkan perusaan tersebut karena beliau merasa tidak nyaman.

Beliau merupakan tipe orang yang tidak senang dengan keterikatan, lebih senang untuk berfikir, berorganisasi dan saling berinteraksi sehingga beliau memilih menjadi seorang dosen pengajar.

Dalam wawancara ini, kami (khususnya saya sendiri) diberikan sebuah saran atauun nasehat untuk survive di dunia perkuliahan.

Pertama, selalu ikuti dan taati peraturan yang ada jangan terlalu menjadi anak nakal tapi jangan juga terlalu menjadi anak yang baik, baik dalam artian disini adalah janganlah terlalu terpaku terhadap apa yang telah ada.

Cobalah sesuatu yang berbeda (out of the box), jangan menjadi mahasiswa yang terlalu textbook. - Igi Ardiyanto, Dosen DTETI UGM


Selanjutnya cobalah explore dirimu temukan bakat-bakat baru yang ada dalam dirimu dan juga jangan lupa untuk selalu berpegang teguh akan tujuan awalmu untuk belajar disini.


Cukup sekian cerita singkat pengalaman saya saat mahasiswa baru, terima kasih.

0 Comments: