Bismillāhirrahmānirrahīm. Assalamu’alaykum warahmatullāhi wabarakātuh Halo teman-teman semua, nama saya Lulu Nurani. Saya lahir di Bandung...

Lulu Nurani - S1 Pendidikan Agama Islam , Universitas Pendidikan Indonesia


lulu-nurani-pendidikan-agama-islam-universitas-pendidikan-indonesia


Bismillāhirrahmānirrahīm.
Assalamu’alaykum warahmatullāhi wabarakātuh

Halo teman-teman semua, nama saya Lulu Nurani. Saya lahir di Bandung pada tanggal 23 Agustus 1998. Saya merupakan anak tunggal, Ayah saya bernama D. Wawan dan Ibu saya bernama Heni. Ayah saya bekerja sebagai seorang pabrik sedangkan Ibu saya adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang dengan ikhlas selalu mengurus saya dan juga ayah saya. Subhanallah mulianya pekerjaan Ibu saya ini ^_^ Cita-cita saya yaitu ingin menjadi seorang pendidik, entah itu sebagai guru TK, SD, SMP, SMA ataupun menjadi seorang Dosen. Aaamiin.. 

Hobi saya yaitu membaca buku yang berhubungan dengan pelajaran disekolah, membaca komik ataupun cerita pendek yang memotivasi, tapi kalau untuk membaca Novel saya kurang suka karena ceritanya terlalu panjang. Nah disini saya akan membagi cerita saya saat di SMA dulu, tepatnya di SMAN 17 Bandung.

Oke dimulai saat kelas 1 ya, awal masuk sekolah seperti biasa ada yang namanya Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang selalu bikin deg-degan. Lalu kemudian masuk pada hari pertama pembelajaran waktu itu saya dan teman-teman saya terlihat masih imut-imut gitu. Saya ini orangnya pemalu kalau didepan umum, saya melihat teman-teman saya sangat antusias dalam menjawab pertanyaan guru dan mencoba untuk mengisi soal di depan sedangkan saya hanya terdiam mencoba mengerjakan soal tersebut dibangku saya saja.

Saat diberikan tugas tentang matematika, kimia, fisika, biologi saya sering kali kewalahan karena hanya memiliki buku seadanya yang disediakan oleh sekolah. Sedangkan teman-teman saya dengan mudahnya mengerjakan tugas karena dibantu dengan LES dan juga buku sumber yang lainnya. Terkadang saya suka bertanya isi tugas yang tidak bisa saya kerjakan kepada temen-teman yang LES.  

Saya jadi putus asa sebenarnya, Tapi orangtua saya selalu mendengarkan saya dan memotivasi saya untuk mencoba dan berusaha, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi orang yang lebih rajin lagi membaca buku dan juga mencari rumus2, karena kalau minta di Les kan orang tua saya tidak memiliki cukup uang untuk itu. saya juga memaksakan diri untuk aktif dikelas tapi tentu jangan asal2an bicaranya tetap harus difikirkan. Alhamdulillahh tidak disangka-sangka akhinrnya saya meraih juara 2 dikelas berkat usaha saya belajar dengan maksimal.


Di kelas 2, dihadapkan dengan guru guru yang menurut saya agak menegangkan. Tapi jujur justru guru yang seperti itu lah yang saya sukai namun memang tetep aja bikin takut dan deg degan. Tapi justru dengan adanya guru-guru yang seperti itu menambah motivasi saya untuk belajar  takut dimarahin kalau gak bisa. Alhamdulillah saya dan teman-teman saya dipercaya untuk mengikuti lomba kimia, dan ternyata soalnya susah banget, begitu pulang ketemu guru pembina kami, kami langsung putus asa sepertinya kami tidak akan menang.

Tapi ternyata Allah berkehendak lain, saya dan salah satu teman saya berhasil lolos menuju tingkat berikutnya dan pas mengikuti tingkat berikutnya kami gugur, tapi tidak apa apa yang penting punya pengalaman. Tapi guru pembina kami yang sangat baik yaitu Bu Imas, beliau tidak pernah memaksa kami untuk menang tapi beliau bilang yang penting berusaha saja dulu hasilnya kita serahkan pada Allah, tidak apa-apa kalah juga… uuh menyentuh sekali.. kadang kami di traktir makanan juga sama Ibu Imas, benar benar seperti Ibu kami sendiri. 

Di semester ini juga berhubung saya mengikuti ekstrakulikuler PMR saya dan anggota PMR yang lain mengikuti perlombaan di 2 sekolah Alhamdulillah saat itu saya dan temen2 saya bisa menjadi juara juga di salah satu perlombaan itu. Total perlombaan yang saya ikuti yaitu, 4 kali lomba kimia dan 2 kali loba PMR. Seharusya saya bisa menerima 6 sertifikat baik itu hanya sebagai peserta atau pun pemenang , namun ternyata saya cuman mendapatkan 2 sertifikat saja yang ada di salah satu perguruan tinggi.

Kenapa coba???? Jadi kesalahannya itu adalah ketika saya menyelesaikan lomba, saya itu tidak langsung meminta sertifikat, jadi waktu itu sertifikatnya dititipkan ke guru saya dan saya lupa menagih, dan saat saya tagih ternyata sudah hilang begitu saja. Lomba PMR juga gak dapet sertifikat karena kaka pembinanya sibuk dan memang harus selalu kita ingatkan tapi lupa lagi lupa lagi dan akhinnya hilang juga. 

Maafkan ya saya tidak berniat menyombongkan diri karena saya hanya ingin membagi pengalaman saya untuk dapat diambil hikmahnya dan jangan sampai melakukan kesalahan yang udah saya ceritakan ini.

Di kelas 3 yaitu detik detik menuju UN. Kami tidak bisa ikut lomba lomba karena memang sudah harus difokuskan. Tapi jujur entah kenapa saya merasa semangat belajar saya menurun dan nilai kimia saya juga menurun. Jujur sangat sedih padahal tadinya saya mau milih jurusan kimia di UPI tapi jadi nge down deh..  seperti biasa persiapan UN hanya saya andalkan kepada pemantapan disekolah saja, mau bagaimana lagi saya tidak punya uang untuk LES.. Saat pemasukan data SNMPTN sebenernya saya disuruh Pa Eka untuk mencoba memilih ITB karena nilai rapot saya cukup baik, namun saya tidak memiliki percaya diri yang tinggi.

Saya takut  tidak bisa mengikuti pelajaran disana karena disana kan tempatnya orang-orang jenius dan akhirnya saya memilih jurusan pendidikan kimia di UPI karena saya suka kimia walaupun disemester akhir nilai saya menurun. Yang kedua saya memilih Ilmu Pendidikan Agama Islam di UPI karena saya pikir saya juga membutuhkan Ilmu Agama itu penting bagi saya dan juga orang-orang sekitar saya.

Dan Alhamdulillah ternyata saya diterima dipilihan kedua, awalnya sedih namun seperti saya memiliki orang tua yang bijak mereka berkata bahwa "inilah pilihan dari Allah". Inilah yang terbaik untuk Lulu, tidak ada salahnya mendapatkan jurusan ini.. justruu jurusan ini selain untuk dunia bisa juga untuk akhirat. Apalagi lulu seorang perempuan kalaupun ingin menjadi guru silahkan, tidak pun tidak apa-apa karena jika suatu saat lulu menikah dan memiliki keluarga juga memiliki anak lulu bisa menerapkan dan mengamalkannya kepada keluarga lulu dan juga lingkungan sekitar.. aamiinn…

Nah udah selesai cerita pengalaman saya,, jadi saya berpesan kepada teman-teman untuk jangan putus asa ya.. Allah itu adil semua orang juga diberikan otak yang sama jadi kita semua memliki potensi untuk menjadi orang yang cerdas asalkan kita mau berusaha, hilangkan rasa malas rajin rajin membaca dan juga latihan. Yang akan menjadi pemenang adalah orang yang ulet dan orang yang tekun.. proses tidak akan mengkhianati hasil.

Ingatlah bahwa Allah maha melihat, Allah itu maha adil. Jangan kecewa dan putus asa jika kita belum bisa mendapatkan nilai yang baik, karena sesungguhnya nilai itu bukan hanya sekedar angka saja tapi justru yang diharpkan adalah nilai yang selalu kita implementasikan dalam hidup kita. Jangan sampai nilai Biologi kita 100 tapi dalam kenyataannnya kita memakan makanan tidak sehat. Seperti makanan yang berpengawet dan berwarna. Tapi, jadilah orang yang memiliki nilai biologi tapi juga menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Ingat ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat kita amalkan.

1 komentar: