Aku hanyalah seorang yang biasa saja, tak ada sedikitpun hal yang spesial dariku. Kisah ini akan kumulai saat aku berada di kelas 11, karena...

Januar Lazuardi - S1 Teknik Informatika, Universitas Padjajaran


januari-lazuari-teknik-informatika-unpad


Aku hanyalah seorang yang biasa saja, tak ada sedikitpun hal yang spesial dariku. Kisah ini akan kumulai saat aku berada di kelas 11, karena kehidupan kelas 10-ku sama sekali tak ada hal yang bisa diceritakan karena terlalu monoton.

Kelas 11, adalah masa-masa paling lowong seseorang saat SMA. Dan yang kulakukan bukan belajar, yang bisa kulakukan hanya bermain dengan hapeku. Tiap ada jam kosong, istirahat, sebelum pulang, pastinya main hape, tak pernah kulewatkan sedikitpun. Ikut bimbel pun hampir tak menambah jam belajarku karena disana aku tetep keseringan main hape.

Perkembangan pendidikan yang kumiliki bisa dibilang buruk. Selalu menyontek tiap ada PR, ulangan tetep nyontek, bahkan UTS dan UAS sekalipun. Itu sudah kulakukan semenjak kelas 10 (sampai menjelang akhir kelas 12).

Saat kelas 12, hapeku rusak. Bukannya belajar, aku sekarang jadi tukang tidur. Apalagi beberapa temanku sering mengambil matras dari ruang olahraga tanpa izin, dan beberapa orang anak tidur disitu, termasuk aku tentunya. Bahkan beberapa guru pun tau aku jadi tukang tidur saat kelas 12. Tapi aku tetap menyadari kalau aku sudah kelas 12, harus belajar buat masuk kuliah nanti. Aku masih bimbel dulu, disitu aku maksimalkan belajarku. Semuanya berjalan lancar, sampai seminggu sebelum UN datang...

Keadaannya sedang di tempat bimbelku, saat pelajaran matematika. Aku sudah biasa bertanya pada gurunya, bahkan dari kelas 11. Tapi yang membuat semuanya jadi kacau, ada seseorang (yang dulunya temanku) tiba-tiba protes dan teriak, omongannya kasar, dan berkata seperti ini "Elu bisa diem gak sih? Dasar berisik!" (sebenarnya perkataannya lebih kasar dari ini, ini versi halus yang sudah kuterjemahkan sendiri).

Disitu aku mulai syok, dan guru les-ku mencoba menenangkanku. Setelah itu, aku tak pernah bicara dengannya lagi, padahal dulu kita satu sekolah dari SMP-SMA, dan dia sukses menhancurkan semua kenangan itu hanya dalam hitungan detik. Keadaan ini membuatku syok selama beberapa lama, dan hasilnya, nilai UN-ku terendah kedua di kelasku.

Aku mencoba bangkit, mulai dari menceritakan kisah ini kepada temanku, guru bimbelku, dan coba tebak. Tak ada yang suka dengan gayanya. Dan pada akhirnya aku ceritakan kisah ini pada psikolog-ku, dia bilang kalau jika sebelumnya gak pernah ada yang protes dengan gaya belajarku, berarti ada yang salah dengannya. Dan sikap yang dia tunjukkan, hanya membuktikan dia sudah kalah duluan, dan dia menyarankanku untuk tetap fokus. Psikolog-ku benar, aku harus fokus, melupakan apa yang telah lalu, dan menganggapnya tidak pernah ada. Dua bulan yang kumiliki bukan hanya untuk belajar, tapi juga memulihkan diri dari rasa syok ini.

Sehari sebelum SBMPTN dilaksanakan, hatiku berdebar. Hanya ini satu-satunya harapanku karena aku tidak mendapat jatah mengikuti SNMPTN, dan aku tidak suka kedinasan. Harus berhasil atau ulang lagi tahun depan, karena aku tidak boleh kuliah di swasta. Disaat SBMPTN tiba dan aku sudah menerima soal Saintek, aku sedikit kebingungan dengan soalnya, benar-benar soaln dengan kesulitan tingkat tinggi. Keringat dingin mulai bercucuran. Hingga aku secara tak sadar aku menengok ke arah kanan dan melihat tembok dengan sebuah pajangan "Jika kau gugup dan resah, ingatlah Tuhanmu" seketika aku menjadi tenang dan mulai bisa mengerjakan soal Saintek. Sebenarnya aku masih dilanda rasa aneh karena aku hanya mengisi sedikit sementara peserta lain mengisi sangat banyak, bahkan hampir semua. Hingga pada akhirnya aku hanya bisa kerjakan 14, tidak sampai seperempatnya.

Setelah istirahat selama setengah jam, aku kembali ke ruangan dan mulai mengerjakan TKPA, disini aku sedikit lebih santai karena disini keahlianku. Tapi aku tetap dilanda rasa aneh karena disaat aku mengisi banyak, orang lain hanya mengisi sedikit.

Bel pun berbunyi, tanda ujian sudah selesai. Petugas bilang "Semoga sukses!" sebelum dia pergi.

Setelah ujian selesai, aku merasa lega, bahkan ayahku langsung memperbolehkanku bermain dengan temanku.

Saat pengumuman hampir tiba, biasanya orang lain membuka hasilnya di rumah masing-masing, tapi aku tidak. Aku disuruh liburan ke luar kota oleh ayahku, tapi aku tidak sendiri, kakakku akan mendampingi, dan akan tinggal sementara di rumah saudaraku. Keputusan ayahku adalah suatu hal yang penuh risiko jika misalnya aku gagal mendapatkan kelulusan SBMPTN, dia bisa mati konyol karena sudah terlanjur menyuruh anaknya liburan ke luar kota.

Saat hari pengumuman tiba, hatiku berdebar semakin kencang, tidur tak nyenyak, dan situs yang tak bisa diaksek karena saking banyaknya orang yang mau mangakses. Saat aku coba membuka, aku lulus.

Ini bukan mimpi kan?

Aku memang tak sedang bermimpi. Aku lulus, LULUS! Diterima di pilihan pertama, Teknik Informatika Unpad!

Aku senang karena aku diterima, beberapa saudaraku mengucapkan selamat, dan.. setidaknya ayahku gak mati konyol. Aku pulang ke Bandung dengan rasa bangga, aku yang tak mengira, dari seorang pemalas tingkat akut, bisa diterima di Universitas yang peminatnya paling banyak sejak tahun 2011

Sekian kisah perjuanganku, apapun dirimu, selama kau mau berusaha, semuanya itu mungkin.

0 Comments: