Kegagalan adalah Kunci Kesuksesan Kenalkan nama saya Ardian Fauziyah saya adalah alumni disalah satu sma negeri dibandung tepatnya di SMAN ...

Ardian Fauziah - S1 PGSD Kampus Cibiru, Universitas Pendidikan Indonesia


Kegagalan adalah Kunci Kesuksesan

Kenalkan nama saya Ardian Fauziyah saya adalah alumni disalah satu sma negeri dibandung tepatnya di SMAN 17 bandung, dulu saat saya masuk sma 17 saya merasa terkucilkan karna saya masuk sma yang bukan termasuk populer dikalang temen-teman smp saya. Saya selalu malu jika ditanya "smanya dimana dian?" Dan setelah itu hanya ledekan yang teman saya lontarkan mungkin mereka hanya bercanda tetapi saya selalu menjadi malu akan hal itu waktu berganti mos pun dimulai saya hanya menemukan satu orang yang cukup berarti untuk saya saat itu dan dia adalah teman tebaik saya untuk saat ini dan mungkin akan selamanya karna dia saya belajar akan rasa malu yang saya punya. 

Orang itu duduk sebangku dengan saya hampir 3 tahun lamanya dan dia tak pernah bosan dengan semua tingkah laku saya yang menyebalkan, dan disitu saya bersyukur dengan masuknya saya ke sma ini. Kelas 10 pun berlanjut saya masuk ke organisasi yang bernama tasrim disitu saya merasa memiliki keluarga kedua dan bertemu dengan sahabat saya yang kedua, saat kelas 10 saya dibully dengan berbagai alasan terutama dengan masuknya saya ke tasrim tapi banyak orang yang menguatkan saya untuk tetap lanjut walau saya orang yang baragajul.

Saya bertahan dikelas 10 karna saya berpikir jika saya pindah saya mungkin akan mendapatkan pelajaran yang sangat susah dibandingkan ips dan saat itu saya orang yang sangat tidak mempedulikan nilai. Tetapi saya dulu sangat ingin masuk ke jurusan matematika upi karna saya terinspirasi oleh guru matematika saya saat itu tetapi harapan itu dipatahkan oleh guru tersebut karna saya hanya seorang siswa ips yang menurutnya susah bersaing dengan anak ipa lainnya.

Tahun berganti saya memasuki kelas 11 dimana saya aktif sebagai pengurus tasrim dan disini saya merasakan suka duka organisasi yang belom pernah saya alami. Saya sangat banyak belajar di organisasi tersebut terutama dalam hal publik speaking, dulu saya sangat tidak bisa berbicara di luar lingkup kelas yang cukup banyak dan alhamdulilah saya juga belajar akan arti persahabatan yang sejati.

Tak Terasa Sudah Masuk Kelas 12

Seiring berjalan nya waktu tidak terasa saya memasuki kelas 12 dengan berat hati saya meninggalkan rumah kedua saya karna memang harus melepaskan masa kepengurusan saya dan saya takut sibuk dengan berbagai kesibukan menyiapkan Ujian Nasional, ya! UN adalah ketakutan saya selama 3 tahun belakang.

Saya menjalani 1 semester dengan santai tidak ada tekanan mengenai apapun tentang pelajaran, dan saat un tiba saya hanya belajar dengan sistem kebut semalam. Sebelum saya mengetahui nem saya dan mengetahui saya lulus snm atau tidak, saya fokus pada ikatan dinas kepolisian disitu juga saya diberi dukungan penuh oleh orangtua saya, dengan semangat itu saya melakukan beberapa persiapan sebelum tes saya menyiapkan fisik saya dengan memakai sepedah ke sekolah, berlari keliling lapangan, berenang dengan 2x dalam seminggu (sampai kulit saya hitam), melakukan sit up dan push up, dan menyiapkan berkas yang cukup banyak hingga semua siap saya berikan tetapi mungkin bukan rezeki saya, saya ditolak karna alasan yang menurut saya sangat mengecewakan saya hanya kurang 1cm untuk ketinggian saya. 

Disitu saya sangat terpuruk dan saya sangat kecewa dengan apa yang saya usahakan tidak berbuah manis sama sekali, saya sempat berpikir alloh tidak adil tapi ibu selalu menasehati jika rezeki tidak akan salah orang dan kepolisian pun bukan rezeki saya. Berlanjut dengan snmptn saya pun gagal disitu karna mungkin pesaing yang banyak dan saya mengakui saya tidak pernah belajar seperti orang lain tapi tetap saja saya  kecewa dan disitu sahabat saya masuk snm upi, saya banga sekaligus merasa sedih dengan keadaan saya, saya sedih dipelukan sahabat saya dan menceritakan semuanya.

Dan dia berkata pada saya "dian harus sabar mungkin bukan jalan dian disnm, dian harus semangat masih banyak jalan" disitu saya merasa lega dengan apa yang dia katakan kepada saya. Dan orangtua saya hanya bilang "bukan rezeki" ini adalah kegagalan ke-3 saya dan disitu sempat berpikir saya harus mengejar impian saya melalui jalur SB,  tapi kegagalan menghampiri saya lagi dan itu adalah kegagalan saya ke4. 

Saya tidak putus asa saat itu karna sudah banyak kegagalan yang saya dapatkan dan saya mencari sekolah tinggi ikatan dinas saya mendaftar di sekolah tinggi pariwisata bandung dan statisika (saya lupa) dan keduanya pun bukan jalan saya saya ditolak keduanya dan berarti itu adalah kegagalan saya ke5 dan 6 saya. 

Saya sempat berpikir untuk bekerja karena selama ini saya hanya minta uang, kenapa tidak bekerja dan memberi uang kepada orangtua saya, disitu saya menyebarkan cv saya keberbagai macam perusahan dan saya dipanggil di daerah jakarta selatan didua perusahaan yang mungkin gaji cukup lumayan, tapi kegagalan selalu menghampiri saya setelah wawancara dua perusahan tersebut ditolak karna mungkin tidak adanya pengalaman bekerja dan berarti itu adalah kegagalan ke-7 dan ke-8 bagi saya. 

Kebuntuan Membawa Saya Bertanya Pada Ibu

Saat itu saya sudah buntu untuk mengikuti ujian saya bertanya kepada ibu saya 


Dian: "bu, kayanya udah deh aku nganggur aja dan bantuin konfeksinya abah (ayah) biar abah gak sendirian"

Ibu: (dengan lantang berkata) "buat apa bantuin abah? Abah udah punya pekerjanya, ngapain kamu nganggur kalo masih banyak peluang diluar sana yang menunggu kamu, semua itu harus berbarengan km ngerjain ujian apapun gak akan keterima kalo km gak minta sama yang punyanya (doa), ibu liat kamu kerjaannya tidur terus solat cuma fardu mana doa yang lebih untuk Alloh?"

Dian: 
"Tapi bu aku udah gagal banyak banget, aku gak mau uang ibu hilang karna uang pendaftaran yang hangus" (dengan lemas aku manjawab)

Ibu: "ibu gak pernah mempermasalahkan uang ibu yang ilang tapi semangat kamu yang ilang yang ibu permasalahkan, uang bisa dicari dan akan hilang tapi kalo ilmu dia akan susah hilang dan ibu gak mau punya anak gak punya ilmu."

"Sekarang km belajar dan  hal yang harus kamu inget sholat tahajud minta sm alloh , solat pun harus dimesjid, solat duha jangan ketingalan, jangan lupa juga solat sunat yang lain , dan jangan tidur subuh karna rezeki kamu akan dipatok ayam kalo bisa kerjakan hal yang buat Alloh suka sama kamu"

 
Kata kata ibu benar-benar memotivasi saya untuk melanjutkan cita cita saya yang ingin jadi guru dan saya berubah 360 derajat dari seorang Ardian yang sebelumnya saya menuruti semua perintah yang Ibu katakan, tapi saya tetap berusaha mencari selain UPI.

Sampai akhirnya saya pun mendaftar diri ke berbagai seleksi masuk PTN. Mulai dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Universitas Pendidikan Indonesia dan juga Politeknik Negeri Bandung adalah jalan terakhir saya (sebernarnya masih ada UNPAD) dan membayar langsung.

Sejak saat itu saya belajar dengan giat siang-malem saya lakukan hanya untuk lolos PTN dan saya menggunakan hp hanya menerjemahkan bahasa inggris yang menurut saya susah. Kedua orangtua saya memiliki firasat yang berbeda, ibu bilang sih saya bakal masuk upi dan abah bilang bakal masuk polban tapi saya tidak terlalu ambil pusing karna saya gakmau kecewa yang berlebihan. 

Saya melakukan tes polban dengan sulit karna saya belajar yang berbeda tetapi tidak menyurutkan saya untuk tidak mengisi dua hari kemudian saya melihat pengumuman bahwa saya adalah pengganti dengan peluang jika ada yang tidak ingin ngambil jatah saya bisa masuk tetapi saya hapuskan polban dan menganggap bahwa polban adalah ke gagalan ke-9 saya tapi saya tetap berdoa dan minta yang terbaik, hari tes um pun tiba saya pergi berdua dengan teteh (sebutan kakak perempuan bagi orang sunda) saya yang memang sudah kuliah disana selama empat semester dan akan memudahkan saya untuk mecari tempat.

Tes pun berjalan dengan tidak terkendali saya tertidur di depan komputer saya (mungkin karna malam sebelumnya saya belajar hingga waktu menunjukan pukul 02.00 dini hari) , tapi saya tetap melanjutkan di menit terkahir. 

Saya memang cukup pesimis dengan masuknya saya ke upi cibiru tetapi teteh berkata "tenang tes wawancara masih ada" dengan perasaan waswas saya menunggu wawancara saya. Dan wawancara pun berlangsung dari jam 1siang hingga selesai dan saya dapat antrian ke-2. 

Saat saya masuk ke ruang wawancara saya merasa hampir bahagia karena dosen-nya cukup tenang dan baik menurut teteh saya, dosen saya yang bernama Bu Susilo ini memang baik dan selalu bergurau tapi saya menjawab pertanyaan wawancara dengan tegas. 

Saat keluar saya menghampiri kakak saya dan diberi tos ala saya dan teteh saya (untuk menenangkan saya). Seminggu kemudian saya menerima kabar bahwa pengumuman Ujian Mandiri UPI sudah di sebarkan dan dengan deg-degan saya membuka dan dilihat oleh teteh saya, teteh saya seperti memberi kata maaf tapi langsung memeluk saya dan berkata "Selamat Anda Masuk UPI".

Ahh saya masih ingat bagaimana abah saya memeluk saya saking bahagianya, saya diciumi oleh ibu saya dan abah saya berkata "tidak akan pernah usaha menghianati hasil" saya menangis bahagia saat itu karena ini adalah kesuksesan saya yang tertunda. Saya bersyukur memiliki keluarga yang mendukung saya penuh mencintai saya dengan tulus dan saya pun bersyukur memiliki sahabat yang selalu saya dapat andalkan dan tidak meninggalkan, meskipun sedang terpuruk sekalipun.

Semoga cerita yang panjang ini dapat menginspirasi teman-teman yang berniat untuk masuk ke PTN impiannya, intinya jangan pernah menyerah dengan apapun yang terjadi karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda terbukti dengan sembilan kalinya kegagalan saya, saya mendapatkan apa yang saya cita cita dari sd yaitu menjadi guru.


Sekali lagi maaf jika tulisan ini terlalu panjang, semoga bermanfaat ingatlah keluarga itu No-1 dan jika Anda terpuruk orang pertama kali yang akan memeluk anda adalah kedua orang tua. Makasih sudah membaca artikel gak penting ini bye...


0 Comments: